Persepsi Generasi Muda Terhadap Partai Politik Melalui Media Massa

Persepsi Generasi Muda Terhadap Partai Politik Melalui Media Massa

ABSTRAK

Dengan adanya transformasi media dari media konvensional (televisi, radio, koran) ke media baru (internet; website, media sosial) menjadi konsumsi utama oleh generasi muda. Ekonom politik komunikasi telah fokus pada media, informasi, dan khalayak sebagai sumber daya dan memetakan cara mereka dikemas ke dalam produk untuk dijual. Banyak yang melakukan pergeseran dari studi lama ke media baru menekankan kontinuitas antara kapitalisme media lama dan baru. Untuk mereka, media baru memperdalam dan memperluas kecenderungan dalam bentuk kapitalisme sebelumnya dengan membuka kemungkinan baru untuk mengubah media dan khalayak menjadi komoditas yang dapat dijual. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana persepsi generasi muda terhadap partai politik melalui media massa. Lebih jauh lagi, hasil penelitian ini dapat melihat kepada implikasi partisipasi pemuda terhadap berbagai aktivitas politik. Persepsi yang buruk dan partisipasi yang rendah kepada media dan partai politik oleh generasi muda perlu dievaluasi untuk kemudian dilakukan perbaikan sehingga generasi muda bisa memanfaatkan media dan partai politik untuk pembangunan yang lebih baik lagi.

Kata kunci: generasi muda, partai politik, media massa, persepsi, transformasi media

Pendahuluan

Dalam dokumen Statistik Pemuda 2016 (Badan Pusat Statistk, 2016), disebutkan bahwa visi dan misi pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005–2025 adalah mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur, serta mewujudkan bangsa yang berdaya saing. Mengacu pada hal tersebut maka visi pemerintahan Republik Indonesia periode 2015– 2019 adalah terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong. Visi tersebut diwujudkan melalui sembilan agenda prioritas (Nawa Cita) dan 31 program aksi. Pemuda dengan karakter yang melekat didirinya juga tidak luput dari perhatian pemerintah dalam menentukan arah dan strategi pembangunan nasional. Menyadari begitu strategisnya peran dan fungsi yang melekat pada pemuda, maka pemerintah Indonesia berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang ada melalui penyadaran, pemberdayaan, pengembangan kepemudaan di segala bidang sebagai bagian dari pembangunan nasional. 

Hal ini dituangkan dalam agenda Nawa Cita ke sembilan yaitu memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Adapun arah kebijakan dan strategi dalam Nawa Cita yang memiliki prioritas di bidang kepemudaan dan olahraga, yaitu : (1). Memperluas kesempatan memperoleh pendidikan dan keterampilan; (2) Meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama; (3). Meningkatkan potensi pemuda dalam kewirausahaan, kepeloporan, dan kepemimpinan dalam pembangunan; (4). Melindungi segenap generasi muda dari bahaya penyalahgunaan napza, minuman keras, penyebaran penyakit HIV AIDS, dan penyakit menular seksual di kalangan pemuda. seluruh arah kebijakan dan strategi tersebut bertujuan untuk membentuk pribadi pemuda yang berkarakter, maju, dan mandiri (Badan Pusat Statistk, 2016).

Pemuda merupakan generasi penerus sekaligus calon pemimpin bangsa di masa depan yang diharapkan mampu memberikan kontribusi positif yang signifikan bagi kemajuan bangsa. Pembangunan pemuda memiliki peran penting dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan mengamanatkan bahwa pembangunan kepemudaan bertujuan untuk terwujudnya pemuda yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggungjawab, berdaya saing, serta memiliki jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, kepeloporan, dan kebangsaan berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Badan Pusat Statistk, 2016). 

Lebih lanjut Badan Pusat Statistik (2016) menjelaskan bawah misi Pembangunan Nasional 2005-2025 yaitu “Mewujudkan bangsa yang berdaya saing” sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025. Berdaya saing dalam lingkup kepemudaan mengandung arti “memiliki kemampuan berkompetisi yang dihasilkan melalui pola pengaderan dan peningkatan potensi pemuda secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan sesuai dengan metode pendidikan, pelatihan, pemagangan, pembimbingan, pendampingan, serta pemanfaatan kajian, kemitraan, dan sentra pemberdayaan pemuda yang terus-menerus dikembangkan sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal dalam menciptakan nilai tambah kepemudaan di berbagai bidang pembangunan, serta peningkatan akhlak mulia dan prestasi pemuda Indonesia di kancah kompetisi global”. 

Di era kemajuan jaman yang serba canggih, membuat perkembangan ilmu dan teknologi bertambah cepat. Teknologi informasi berkembang pesat melebihi bidang lainnya. Faktor penentunya adalah globalisasi informasi, yaitu penyebaran akses dan produksi informasi ke seluruh dunia. Informasi dapat diakses oleh siapa saja dan di mana saja. Perkembangan lintas batas informasi adalah yang tercepat. Pada zaman modern seperti saat ini, banyak masyarakat kita sudah tidak asing lagi dengan keberadaan internet mulai dari orang tua, para generasi muda, hingga anak SD pun mengenalnya. Bahkan adanya internet sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan  masyarakat, serta sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang. Jadi tidak heran bila banyak orang yang menggunakan internet sebagai bagian kehidupan yang tak terpisahkan. Lebih dari separuh pemuda (51,58 persen) pernah mengakses internet dalam tiga bulan terakhir (Gambar 3.7). Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara pemuda perkotaan dan perdesaan dalam mengakses internet, dimana pemuda perkotaan yang mengakses internet mencapai hampir dua kali lipat pemuda perdesaan (65,79 persen berbanding 35,04 persen). Lebih rendahnya persentase pemuda perdesaan dalam mengakses internet kemungkinan disebabkan keterbatasan sarana dan layanan internet di perdesaan dibanding di perkotaan. Berdasarkan jenis kelamin, pemuda laki-laki yang mengakses internet lebih tinggi dibandingkan pemuda perempuan (53,50 persen berbanding 49,62 persen). Sedangkan menurut kelompok umur, pemuda pada kelompok umur 16-18 tahun merupakan kelompok yang paling tinggi persentasenya dalam mengakses internet. 

Gambar 1. Persentase Pemuda yang Mengakses Internet dalam Tiga Bulan Terakhir Menurut Tujuan Mengakses, 2016

Dalam Statistik Pemuda 2015 (Badan Pusat Statistik, 2015), media massa merupakan media yang digunakan secara massal untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. Informasi itu bisa berupa hiburan, atau pendidikan. Media massa terdiri dari media cetak dan media elektronik. Yang termasuk media cetak adalah koran, majalah, tabloid, newsletter, dan lain-lain. Sedangkan media elektronik adalah televisi dan film (media audiovisual), serta radio (media audio). Fungsi media massa setidaknya ada empat, yaitu menginformasikan (to inform), mendidik (to educate), membentuk opini atau pendapat (to persuade), dan menghibur (to entertain). Munculnya media massa didorong suatu kenyataan bahwa fungsi media massa lebih dominan dalam hal menghibur, dan mengabaikan fungsi mendidik. Kelebihan media massa dibanding jenis komunikasi lain adalah ia bisa mengatasi hambatan ruang dan waktu. Media massa mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas (Nurudin, 2007, dalam Badan Pusat Statistik, 2015). Pada dasarnya, fungsi utama media massa adalah untuk memberikan informasi dan mengiklankan produk. 

Tingkat partisipasi pemuda dalam memperoleh informasi dan hiburan melalui televisi tergolong tinggi. Badan Pusat Statistik (2015) memperlihatkan sebesar 92,54 persen pemuda menonton siaran televisi. Di daerah perkotaan, persentase pemuda yang menonton televisi mencapai 96,07 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 88,60 persen. Persentase pemuda perempuan yang menonton televisi lebih besar dibanding pemuda laki-laki (93,11 persen berbanding 91,97 persen). Kondisi yang serupa terlihat di perkotaan maupun perdesaan. 

Budaya membaca, khususnya di kalangan pemuda tergolong masih rendah. Susenas 2015 menunjukkan bahwa pemuda di Indonesia yang melakukan kegiatan membaca dalam seminggu terakhir tercatat sebesar 43,57 persen (Gambar 7.7). Minat membaca pemuda yang tinggal di perdesaan masih lebih rendah dibandingkan dengan pemuda di perkotaan. Pemuda di perdesaan yang membaca persentasenya sebesar 30,94 persen. Sedangkan persentase pemuda di perkotaan yang membaca sebesar 54,94 persen. Sementara itu, tidak ada perbedaan yang nyata antara pemuda laki-laki dan perempuan dalam hal kegiatan membaca (44,01 persen 43,13 persen). 

Perkembangan teknologi informasi pada saat ini secara tidak langsung telah menggeser perilaku pembaca dari konvensional media ke media digital. Masyarakat akhir-akhir ini lebih gemar membaca media online dibandingkan dengan media cetak. Gulung tikarnya beberapa media cetak di tanah air, menjadi bukti bahwa media cetak saat ini kurang diminati oleh masyarakat (Badan Pusat Statistik, 2015). 

Sebagian besar pemuda yang membaca surat kabar/koran atau majalah dilakukan dengan frekuensi 1-2 hari dalam seminggu (52,89 persen). Sementara itu yang rutin hampir setiap hari membaca hanya sebesar 22,11 persen. Antara pemuda laki-laki dan perempuan tidak menunjukkan adanya perbedaan yang berarti dalam hal frekuensi membaca surat kabar/koran atau majalah (Badan Pusat Statistik, 2015).

Berdasarkan tempat tinggal, terlihat adanya perbedaan yang cukup berarti antara pemuda di perkotaandan perdesaan dalam hal frekuensi membaca surat kabar/koran atau majalah. Persentase pemuda di perkotaan yang hampir setiap hari membaca surat kabar/koran atau majalah (23,35 persen) lebih tinggi dibandingkan pemuda di perdesaan (18,60 persen) (Badan Pusat Statistik, 2015). 

Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana persepsi generasi muda terhadap partai politik melalui media massa. Lebih jauh lagi, hasil penelitian ini dapat melihat kepada implikasi partisipasi pemuda terhadap berbagai aktivitas politik. 

Kajian Teoretis

  1. Transformasi Media

Beberapa ekonom politik telah menanggapi dengan menekankan kontinuitas antara media lama dan baru Bagi mereka, isu media lama bertahan di dunia media baru. Untuk Yang lain, penekanannya adalah pada diskontinuitas atau koneksi baru yang berjejaring media memungkinkan Yang lain lagi memusatkan pandangan skeptis terhadap janji-janji itu (Mosco, 2009). 

Pakar media baru dan guru mempromosikan, sementara beberapa berkonsentrasi pada isu-isu baru itu media hari ini meningkat. Untuk memahami bagaimana ekonom politik mendekati pergeseran dari lebih tua ke media yang lebih baru, ada gunanya mempertimbangkan masing-masing titik ini. Ekonomi politik cenderung memberi perhatian besar untuk dideskripsikan dan dianalisis kapitalisme, sebuah sistem yang, singkatnya, mengubah sumber daya seperti pekerja, bahan baku, tanah, dan informasi menjadi komoditas berharga yang mendapatkan keuntungan bagi mereka yang menginvestasikan modalnya ke dalam sistem (Mosco, 2009). 

Ekonom politik komunikasi telah fokus pada media, informasi, dan khalayak sebagai sumber daya dan memetakan cara mereka dikemas ke dalam produk untuk dijual. Banyak yang melakukan pergeseran dari studi lama ke media baru menekankan kontinuitas antara kapitalisme media lama dan baru. Untuk mereka, media baru memperdalam dan memperluas kecenderungan dalam bentuk kapitalisme sebelumnya dengan membuka kemungkinan baru untuk mengubah media dan khalayak menjadi komoditas yang dapat dijual (Mosco, 2009).

Akibatnya, konsentrasi media, komersialisme, dominasi negara kaya atas ekonomi global, perpecahan antara informasi yang kaya dan miskin, dan militerisme tetap ada dan tumbuh. Mengutip judul salah satu judul Dan Schiller buku, media baru bisa menuntun kita untuk menyebutnya “kapitalisme digital,” tapi masih kapitalisme dan tidak ada keraguan tentang istilah mana yang lebih penting (Mosco, 2009). 

Selain pendekatan yang menekankan kontinuitas dan disjungsi, bersifat politis ekonomi komunikasi telah menanggapi media baru dengan cara ketiga, dengan mengambil pandangan skeptis tentang antusiasme yang mau tidak mau menyertainya. Hal ini terutama terjadi penting dalam karya sejarah yang menunjukkan banyak hal yang dipertimbangkan (Mosco, 2009). 

Baru dan revolusioner di media baru sebenarnya berhubungan dengan setiap teknologi komunikasi saat media lama masih baru. Misalnya, Winseck dan Pike (2007) membahas konsep konvergensi yang telah menjadi gagasan populer di zaman kontemporer

diskusi tentang apa yang baru tentang komunikasi komputer. Konvergensi menunjukkan integrasi teknologi yang memperkuat teknologi media baru (Jenkins, 2006). Ini juga mengacu pada integrasi perusahaan besar yang memanfaatkan media baru (Mosco, 2009).

Intinya, teknologi yang saling berhubungan dan perusahaan terpadu besar menciptakan konvergensi dibutuhkan sebuah revolusi. Skeptis pandangan bahwa konvergensi itu unik ke media baru, Pike dan Winseck menunjukkan bahwa konvergensi sama tuanya dengan telegraf dan bahwa janji dan tantangan yang kita kaitkan dengan Internet telah diantisipasi oleh teknologi pertengahan abad kesembilan belas (Mosco, 2009).

  1. Teori Persepsi

Persepsi merupakan proses tiga fase, yaitu paparan (exposure), perhatian (attention), dan penafsiran (interpretation), yang menerjemahkan rangsangan kasar menjadi maksud tertentu.    Penafsiran yang mungkin terjadi terhadap rangsangan sesuai dengan kebermaknaan yang telah ditetapkan (oleh komunikator) sebelumnya. Solomon (2017) menjelaskan ketiga fase tersebut sebagai berikut: 

Fase 1: Paparan (exposure). Paparan terjadi ketika rangsangan muncul dalam jangkauan reseptor seseorang. 

Fase 2: Perhatian (attention). Perhatian mengacu kepada proses aktivitas lanjutan yang diperuntukan pada rangsangan tertentu. 

Fase 3: Penafsiran (interpretation). Penafsiran merujuk kepada kebermakaan yang telah ditetapkan (oleh komunikator) pada rangsangan sensorik. Perbedaan penerimaan rangsangan pada berbagai orang berlaku pula pada penerimaan kebermaknaan yang telah ditetapkan (oleh komunikator).

Gambar 2. Proses persepsi

Sumber: Solomon (2017)

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Penelitian kualitatif membantu peneliti untuk mencari makna dari fenomena dari sudut pandang responden. Hal ini berarti mengidentifikasi budaya suatu kelompok dan mempelajari bagaimana budaya tersebut berkembang dalam suatu pola tertentu dalam kurun waktu tertentu. Salah satu elemen penting dalam mengumpulkan data pad penelitian ini adalah melihat perilaku responden ketika beraktifitas (Creswell, 2014, 48). 

Etnografi adalah riset yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana individu-individu menggunakan budayanya untuk memaknai realitas. Riset ini bertujuan untuk mendeskripsikan kebudayaan tertentu secara mendalam dari berbagai aspek seperti artefak-artefak budaya, pengalaman- pengalaman hidup, kepercayaan, dan sistem nilai dari suatu masyarakat. Dalam penelitian ini periset menggunakan teknik penelusuran dokumen yang ditemukan di internet (Kriyantono, 2006). 

Pembahasan

Melalui penelitian Hermawan (2014) terhadap persepsi pemuda Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Banten ditemukan bahwa persepsi pemuda terhadap partai politik peserta pemilu 2014 ditemukan cukup buruk penilaiannya. Penilaian tersebut terhadap fungsi partai politik baik pada fungsi komunikasi politik, fungsi sosialisasi politik atau pendidikan politik, fungsi rekrutmen politik dan fungsi pengatur konflik dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu penilain buruk terhadap kinerja partai politik baik dari prestasi organisasinya sebagai lembaga maupun sebagai individu kadernya. 

Berdasarkan penelitian Karamoy (2015) tentang partisipasi politik generasi muda di Kabupaten Minahasa Utara ditemukan bahwa kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi politik secara aktif bukan hanya datang dan tumbuh begitu saja, tetapi ada berbagai macam faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah dengan memberikan pendidikan politik serta sosialisai politik kepada masyarakat. Selain itu, partisipasi politik masyarakat bukan hanya dalam berbentuk pemikiran dan ide-ide, tetapi lebih di tekankan kepada bentuk konkrit untuk memberikan masukan kepada pemerintah dalam hal ini Kepala Desa sebagai pembuat kebijakan, agar nantinya kebijakan yang dibuat Kepala Desa dapat dirasakan menyentuh sampai kepada lapisan terbawah dari masyarakat. Lalu, dalam pembinan dan pengembangan generasi muda ada empat jalur yakni melalui jalur keluarga, jalur organisasi kepemudaan, jalur pemerintah dan jalur organisasi kepemudaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Atmodjo (2014) mengenai dinamika partisipasi politik remaja melalui media sosial ditemukan bahwa perhatian dan partisipasi responden tergolong rendah pada masalah politik, hanya 26 responden dari 95 responden, walaupun semua responden menyatakan pernah menerima pesan tentang politik. Bentuk partisipasi dengan memberikan komentar, follower kandidat, memberikan opini, dan follower partai politik. Sumber informasi tentang politik secara berurutan dari teman, tokoh/kandidat partai, partai politik, media massa online dan lainnya. Wujud pesan opini dan lucu-lucuan yang paling banyak diterima remaja.

Kesimpulan dan Saran

Persepsi yang buruk dan partisipasi yang rendah kepada media dan partai politik oleh generasi muda perlu dievaluasi untuk kemudian dilakukan perbaikan sehingga generasi muda bisa memanfaatkan media dan partai politik untuk pembangunan yang lebih baik lagi. Perlu dilakukan penelitian yang lebih baik dan komprehensif bagaimana pemuda bisa memberikan persepsi kepada partai politik melalui terpaan media. 

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2015). Statistik Pemuda Indonesia 2015. (Online), (https://www.bps.go.id/website/pdf_publikasi/Statistik-Pemuda-Indonesia-2015–_rev.pdf)

Badan Pusat Statistik. (2016). Neraca Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga. (Online), (https://www.bps.go.id/website/pdf_publikasi/Neraca-Lembaga-Non-Profit-yang-Melayani-Rumahtangga–Tahun-2010-2014–.pdf)

Creswell, John W. (2014) Research Design, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches 4th Edition, California: SAGE Publications, Inc.

Hermawan, A.A. (2014). Persepsi Pemuda Terhadap Partai Politik Nasional Peserta Pemilu 2014 dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Politik Wilayah (Studi Pada KNPI Provinsi Banten). (Online), https://jurnal.ugm.ac.id/jkn/article/view/6790)

Karamoy, A.A. (2015). Partisipasi Politik Generasi Muda Dalam Pembangunan di Desa Sawangan Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara. (Online), https://media.neliti.com/media/publications/1153-ID-partisipasi-politik-generasi-muda-dalam-pembangunan-di-desa-sawangan-kecamatan-a.pdf )

Kriyantono, R. (2006). Teknis Praktis Riset Komunikasi Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relation, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Mosco, V. (2009). The Political Economy of Communication 2nd Edition. UK: Sage Publications, Inc.

Solomon, M.R. (2017). Consumer Behavior, Buying, Having, and Being. USA: Pearson

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *