Critical Review Artikel Ilmiah “Technological Determinism in Patterns of Communication and Social Behavior Change in Indonesian Society”

Critical Review Artikel Ilmiah “Technological Determinism in Patterns of Communication and Social Behavior Change in Indonesian Society”

Di dalam abstrak artikel “Technological Determinism in Patterns of Communication and Social Behavior Change in Indonesian Society” dibahas mengenai penetrasi teknologi komunikasi dalam pola komunikasi dan perilaku sosial masyarakat di kawasan pedesaan dan perkotaan. Muljono, dkk (2016) mengatakan bahwa internet tidak dapat mengikis rasa nasionalisme dan menggantikannya dengan nilai-nilai global. Penelitian ini juga menggambarkan bagaimana komunikasi yang efektif dengan keluarga, tetangga, atau teman melalui media sosial di kawasan perkotaan dan pedesaan. Analisis dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa internet tidak mempengaruhi sikap, dalam masyarakat tradisional, moderat, dan modern di masyarakat perkotaan dan pedesaan. Selanjutnya, menghadap komunikasi tatap muka masih menjadi cara utama dalam berkomunikasi dengan keluarga. Teknologi komunikasi membantu berkomunikasi dengan pihak-pihak di luar keluarga, seperti tetangga atau teman. 

Di dalam artikel juga ditemukan bahwa intensitas tatap muka komunikasi masih dominan dalam keluarga dibandingkan dengan lingkungan sosial lainnya, seperti tetangga, teman di tempat kerja atau di sekolah. Muljono, dkk (2016) juga menemukan bahwa kelompok masyarakat tradisional, dimana penetrasi teknologi komunikasi yang lebih rendah, memiliki durasi tatap muka komunikasi yang cukup rendah di lingkungan anggota keluarga di rumah. Sementara itu, masyarakat moderat dan masyarakat modern, dimana penetrasi teknologi komunikasi cukup tinggi, cenderung berorientasi pada membangun atau menjalin hubungan saat berkomunikasi tatap dengan keluarga. Ini berarti frekuensi dan durasi komunikasi tatap muka tinggi. Sebagai perbandingan, baik masyarakat tradisional, moderat, modern dan memiliki pola komunikasi tatap muka yang berorientasi pada waktu luang ketika berbicara dengan tetangga di sekitar rumah. Jika dibandingkan dengan pola komunikasi tatap muka antara masyarakat perkotaan dan pedesaan, masyarakat perkotaan lebih dominan untuk mempertahankan hubungan baik dengan keluarga atau tetangga. 

Muljono, dkk (2016) juga menyebutkan bahwa perkembangan teknologi komunikasi yang begitu pesat tidak serta merta mempengaruhi tingkat nasionalisme masyarakat. Survei menemukan bahwa orang yang memiliki teknologi komunikasi penetrasi tinggi sebenarnya memiliki sikap dari kolektivisme nasionalisme tinggi juga, meskipun ada kecenderungan untuk semakin individualistis. Sedangkan masyarakat tradisional dan moderat menganggap bahwa teknologi tidak membuat orang lebih individualistis. 

Temuan dari penelitian ini adalah bahwa komunikasi tatap muka masih dapat diandalkan ketika berkomunikasi dalam keluarga. Ada kecenderungan bahwa komunikasi antarpribadi dapat menggantikan teknologi komunikasi dengan sosial lingkungan di luar keluarga (misalnya tetangga). Namun, penetrasi teknologi komunikasi tidak perlu mengubah jenis komunikasi keluarga. Artikel juga ini merekomendasikan adanya strategi komunikasi publik dengan menyasar orang tua. Di daerah perkotaan, arah strategi komunikasi publik ditujukan untuk mendorong orang tua untuk membangun komunikasi dialogis dalam mencari solusi untuk masalah dalam keluarga dengan anggota keluarga, termasuk anak-anak. Di daerah pedesaan, arah strategi komunikasi publik untuk memperkuat peran orang tua dalam membimbing anak-anak. Peran orang tua sangat signifikan dalam menumbuhkan sosialisasi anak dengan lingkungan Hidup.

Oni (2013) mengeksplorasi beberapa teori fundamental, model dan perspektif yang digunakan oleh para sarjana dalam studi komunikasi sebagai kerangka kerja untuk memahami dan mendiskusikan bidang computer-mediated communication (CMC). Oni juga menyebutkan terdapat dua dimensi utama untuk berteori mengenai CMC yaitu: 

(i) interaksi online dalam lingkungan berbasis teks dan multimedia dan 

(ii) adopsi teknologi komunikasi, penggunaan dan perampasan. 

Dikutip dalam Oni (2013), definisi CMC yang populer, digambarkannya sebagai “proses di mana orang membuat, bertukar, dan merasakan informasi menggunakan sistem telekomunikasi dalam jaringan (online) yang memfasilitasi penyandian, transmisi, dan decoding pesan. Menurut Shaft, Martin dan Gay (2001, dalam Oni, 2013), CMC adalah komunikasi manusia ke manusia menggunakan jaringan lingkungan komputer untuk memfasilitasi interaksi. Ini adalah istilah umum untuk semua jenis komunikasi interpersonal (pribadi dan publik) yang dilakukan di Internet melalui e-mail, sistem pesan instan, milis, newsgroup, forum diskusi web, Obrolan Relay Internet, dan saluran obrolan web (Herring 2001, 2004, dalam Oni, 2013). 

Teknologi telepon seluler (ponsel) pintar semakin hari semakin canggih. Kemampuan untuk menyimpan data dalam jumlah besar pun meningkat. Tak heran, banyak sekali informasi masuk melalui ponsel kita. Karena ponsel merupakan produk yang mudah dibawa kemana-mana (mobile), para pengguna senantiasa mencari informasi yang bisa mereka buka langsung dari ponsel pintar mereka. Hal ini juga didukung oleh para pembuat konten, seperti media massa. Baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan memiliki penerimaan yang berbeda-beda mengenai apa yang mereka dapatkan melalui ponsel pintar yang mereka miliki yang nantinya akan berpengaruh juga terhadap bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Pengetahuan masyarakat menentukan perilaku mereka. 

Baran dan Davis (2010) menjelaskan bahwa teori “peluru ajaib” adalah gagasan bahwa propaganda dapat cukup kuat untuk menembus pertahanan kebanyakan orang dan mengkondisikannya untuk bertindak dengan cara yang berguna bagi propagandis. Teori peluru ajaib mengasumsikan bahwa media dapat berfungsi sebagai agen eksternal dan digunakan sebagai alat untuk memanipulasi khalayak massal pada dasarnya pasif.

Ungkapan “peluru ajaib” dimaksudkan untuk memberikan gambaran mental infus langsung, strategis, dan terencana dari sebuah pesan ke seorang individu. Seperti peluru yang memberi dampak langsung pada orang yang ditembak. Tetapi karena metodologi penelitian menjadi lebih berkembang, menjadi jelas bahwa media memiliki pengaruh selektif terhadap orang-orang (Nurzahli, 2008).

Media berasumsi bahwa audiens pasif ini tidak mengerti tentang apa pun dan media mengerti tentang segala hal, jadi ini akan langsung membuat penonton bertindak apa yang disampaikan media. teori peluru ajaib adalah gagasan bahwa propaganda dapat cukup kuat untuk menembus pertahanan kebanyakan orang dan mengkondisikannya untuk bertindak dengan cara yang bermanfaat bagi propagandis. Teori peluru ajaib mengasumsikan bahwa media dapat beroperasi sebagai agen eksternal dan digunakan sebagai alat untuk memanipulasi khalayak massa pada dasarnya pasif (Baran dan Davis, 2010).

Pembahasan mengenai pengetahuan masyarakat yang menentukan perilaku masyarakat didasarkan dari konsep-konsep penting yang utama, yaitu:

  1. Attitudes (Sikap)
  2. Beliefs (Kepercayaan)
  3. Decision (Keputusan
  4. Information (Informasi)
  5. Learning (Pembelajaran)
  6. Perceptions (Persepsi)
  7. Attributes (atribut)
  8. Awareness (perhatian)
  9. Consciousness (kesadaran)
  10. Expectations (harapan)
  11. Facts (fakta)
  12. Intentions (niat)
  13. Interests (ketertarikan)
  14. Meanings (kebermaknaan)
  15. Preferences (preferensi)
  16. Understanding (pemahaman)

 Beberapa dari konsep di atas yang akan coba saya bahasa adalah informasi, ketertarikan, pembelajaran, dan niat. Informasi adalah istilah yang paling umum dalam literatur pemasaran yang mencakup pengetahuan. Sebuah informasi konsumen tentang suatu objek seperti produk baru, jika didokumentasikan akan merangkul kedua knowledge dan sikap. Adalah istilah umum dalam literatur pemasaran yang memberikan pengetahuan kepada konsumen mengenai sebuah produk. Sebuah informasi konsumen tentang suatu objek, misalnya mengenai produk baru perlu didokumentasikan akan mengakomodir pengetahuan sekaligus sikap dari konsumen. Sebuah topik utama perilaku konsumen dibahas frequently dalam literatur pemasaran adalah belajar. Bagaimana konsumen mempelajari (dari iklan)? Berapa Banyak mereka mempelajari (dari iklan)? Kapan mereka memodifikasi pembelajaran mereka? Ini adalah topik yang umum dibahas dalam literatur dan di dalam kelas. Sebuah objek logis dari pembelajaran adalah pengetahuan. Belajar biasanya dilihat sebagai akuisisi sikap dan pengetahuan yang menyebabkan perubahan perilaku. Bagaimana konsumen belajar, Berapa banyak materi yang telah mereka pelajari, Kapan mereka memodifikasi materi pembelajaran mereka. 

Selama ini ketertarikan/kepentingan menjadi Kekhawatiran mendasar tentang objek studi mengenai konsumen. Kita mungkin, misalnya, mempelajari ketertarikan konsumen berspekulasi membelanjakan uangnya untuk membeli logam mulia seperti emas. Kita akan berharap bahwa ada penelitian menarik tentang konsumen yang secara otomatis akan menampilkan pengetahuan dan ketertarikan mereka tentang objek yang menarik bagi konsumen. Di antara bermacam jenis perilaku konsumen, terdapat konsumen perilaku konsumen yang direncanakan. Contohnya apakah mereka berniat membeli microwave? Jika demikian, Kapan? Studi mengenai niat konsumen seringkali berbenturan dengan minimnya pengetahuan mengenai produk yang konsumen sangat berniat untuk membelinya. Pengetahuan produk antara lain terdiri dari harga, kendala keuangan yang dihadapi konsumen seperti kemampuan daya beli yang rendah sehingga tidak memiliki buying power, merek yang ditawarkan hingga siapa yang menjualnya. Studi mengenai perilaku konsumen perlu mendeteksi informasi tentang pengetahuan tentang niat konsumen.

Berdasarkan artikel dan dukungan teori di atas perlu diketahui bahwa perilaku masyarakat sangat bergantung pada pengetahuan yang dimiliki mereka dalam merespons informasi yang mereka dapatkan melalui ponsel pintar yang mereka miliki. Media massa, sebagai salah satu penyedia konten yang tersebar melalui ponsel pintar dengan dukungan jaringan internet juga memiliki peran dalam mempengaruhi pengetahuan masyarakat. 

Saran dan rekomendasi untuk mengatasi masalah sebagaimana dijelaskan dalam artikel

Masyarakat perlu memahami bahwa interaksi tatap muka tetap penting karena dengan begitu akan terbangun kepercayaan dan keterikatan. Meskipun di abad 21 ini kemajuan teknologi, khususnya dalam komunikasi berkembang pesat, masyarakat perkotaan dan pedesaan perlu melakukan kontrol terhadap diri supaya tidak mudah percaya terhadap informasi yang didapatkan. Sikap skeptis perlu diterapkan dan dibiasakan supaya kita terbiasa melakukan pengecekan ulang mengenai informasi yang kita terima. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap pandangan kita terhadap orang lain yang juga akan berdampak pada pola interaksi satu sama lain, baik dalam keluarga maupun dengan orang lain. Disrupsi teknologi komunikasi perlu dibarengi dengan disrupsi pendidikan di berbagai sektor, sehingga masyarakat tidak hanya meningkat dalam digital literasi, tetapi pengetahuan dan wawasan, baik melalui pendidikan formal dan informal, juga meningkat.

Referensi

Norzahli, M. (2008). Analysis of Communication Theories On Magic Bullet Theory and Media Richness Theory . (Online), https://www.academia.edu/attachments/31958920/download_file?s=regpath

Baran, S.J and Davis, D.K. (2010). Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future. Boston: Cengage Learnings. 

Muljono, W., Setiyawati, S., Haryanto, B. (2016). Technological Determinism in Patterns of Communication and Social Behavior Change in Indonesian Society. Asian Social Science; Vol. 13, No. 2; 2017. Canadian Center of Science and Education

Oni, W. (2013). A Survey of Fundamental Theories, Models and Perspectives on Computer-Mediated Communication. (Online, http://nobleworld.biz/images/4-_Oni_s_paper.pdf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *