Bagaimana Seharusnya Mengurangi Sampah Plastik di Laut?

Bagaimana Seharusnya Mengurangi Sampah Plastik di Laut?

Sampah plastik di laut ramai dibicarakan oleh banyak orang. Bukan saja karena ini berpotensi untuk membahayakan lingkungan (termasuk manusia di dalamnya dan makhluk hidup lainnya), tetapi juga menjadi ajang industri yang “menunggangi” isu ini agar┬álebih dianggap memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak polusi plastik di pantai maupun di laut (bahkan di darat sekalipun). Lalu, apa sih sih yang seharusnya kita sebagai masyarakat bisa lakukan untuk berpartisipasi dalam mengurangi potensi polusi plastik (baik di darat dan di laut)?

Satu hal yang saya yakini adalah bagaimana kita bisa mengurangi konsumsi berbagai macam barang sejak awal, bahkan sebisa mungkin menghindari penggunaan barang-barang yang berpotensi menjadi sampah, bukan hanya plastik. Mengapa? Sampah plastik yang ada saat ini karena adanya barang yang dijual oleh produsen berdasarkan “permintaan pasar” (tonton video Story of Stuff disini untuk mengetahui mengapa saya menulis dalam tanda kutip) dan konsumsi barang-barang tersebut oleh masyarakat yang semakin meningkat tiap tahun (dan dianggap sebagai simbol berkembangnya pembangunan suatu wilayah).

Upaya pengelolaan sampah ini sudah dibahas bertahun-tahun yang lalu. Berbagai macam cara pun sudah banyak dilakukan. Dari kampanye perubahan perilaku masyarakat hingga teknologi yang super canggih. Ketika masalah polusi plastik di laut ramai dibicarakan, pembicaraan ini masih tetap berlanjut, berbagai pilot project lebih banyak dilakukan, tapi kebanyakan hanya fokus pada teknologi apa yang digunakan untuk mengurangi polusi plastik. Padahal yang paling penting adalah bagaimana manusia dapat mengurangi polusi plastik. Saya yakin, semua juga tahu, bahwa konsumsi plastik yang tidak bertanggung jawab mengakibatkan masalah yang kita hadapi saat ini.

Saya menjadi teringat diskusi akhir-akhir ini dengan beberapa teman terkait prinsip berkelanjutan yang ternyata berhubungan dengan nilai-nilai Tri Hita Karana yang dikenal di Pulau Dewata. Tri Hita Karana ini mengandung unsur-unsur hubungan manusia dengan manusia (people link), manusia dengan alam (ecological link), dan manusia dengan dirinya sendiri (spiritual link). Kita harus lebih sadar bahwa apa yang kita lakukan di atas bumi ini bukan hanya mengenai kita saja (dengan segala ego dan kesombongan kita), ada banyak hal yang harus kita pertimbangkan dalam bertingkah laku. Manusia bukan penguasa bumi, bukan juga pemilik bumi. Namun, kita sebagai manusia terlampau serakah karena kesombongan kita akan anugerah akal dan pikiran yang diberikan Tuhan Maha Pencipta kepada kita.

Semua pemecahan permasalahan sekarang bergantung pada teknologi yang super canggih. Padahal permasalahan itu sesederhana dimulai dari perilaku untuk tidak serakah. Saya cukup lelah selalu hadir di forum-forum yang menawarkan solusi super canggih untuk mengatasi masalah ini (dari tahun 2014). Padahal mengatasi masalah diri sendiri untuk tidak serakah saja belum tentu beres. Alih alih menawarkan solusi, tetapi masih memproduksi produk-produk yang justru masih dinilai bermasalah bagi lingkungan karena belum sempurnanya fasilitas pengelolaan sampah di negeri ini. Hal ini yang mendorong saya untuk mengampanyekan bagaimana masyarakat bisa berperan untuk menekan konsumsi. Mulai berpikir apa yang kita lakukan itu sesuai ‘kebutuhan’ bukan ‘keinginan’.

Salah seorang teman berujar bahwa tidak ada salahnya kita mengurangi penggunaan produk yang berpotensi menjadi sampah, selagi menunggu sistem pengelolaan sampah yang mumpuni. Janganlah kita bandingkan negara kita dengan Jepang. Disana sistem pengelolaan sampah sudah sangat baik. Jadi mungkin dinilai wajar jika mereka konsumsi lebih banyak, karena nantinya sudah tahu sampah akan diapakan. Beda dengan dikita, konsumsi banyak, tetapi sistem pengelolaan sampah belum membaik. Solusi saat ini ya harus mengurangi konsumsi. Hal ini harus tetap dilanjutkan meski sistem pengelolaan sampah kita sudah baik. Untuk apa? untuk menghemat sumber daya tentunya. Kita tidak bisa serakah, lagi-lagi, masih ada anak dan cucu kita yang harus menikmati indahnya bumi.

Polusi plastik yang terjadi di laut tentunya salah kita sebagai manusia. Sudah semestinya kita mengakui kesalahan ini dengan bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Perbaikan sistem pengelolaan sampah harus terus ditingkatkan, pengurangan konsumsi pun harus tetap dilakukan, dan industri harus mulai beralih ke pendekatan bisnis beretika untuk memulai pembangunan yang berkelanjutan. Siapkah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *