Lima Kriteria Untuk Barang/Kemasan Berkelanjutan

Lima Kriteria Untuk Barang/Kemasan Berkelanjutan

Saya berkesempatan berdiskusi dengan Pak Ujang Solihin Sidik, atau yang biasa dipanggil Pak Uso. Beliau merupakan Kepala Subdirektorat Barang dan Kemasan, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (panjang ya!). Saya mengenal beliau sejak mulai aktif berdiskusi terkait upaya pengurangan kantong plastik di Indonesia. Terkait jabatan beliau yang menangani masalah barang dan kemasan, saya memiliki kesempatan berdiskusi mengenai hal ini.  Terlebih lagi dengan tren saat ini yang mendukung upaya-upaya berkelanjutan, baik itu dalam kaitannya dengan Sustainable Production and Consumption (SCP) atau Sustainable Development Goals (SDGs), yang mana keduanya juga saling berkaitan.

Sudah tiga tahun terakhir ini, saya secara pribadi memiliki perhatian khusus terhadap barang-barang yang saya konsumsi. Terlebih karena beberapa tahun sebelumnya saya pernah mengikuti Pelatihan Kompas Berkelanjutan dari YPBB, sehingga membuka mata saya mengenai bagaimana berperilaku yang mendukung upaya-upaya berkelanjutan. Semakin hari semakin besar rasa bersalah karena selama ini tidak berperilaku yang mendukung berkelanjutan. Untuk mulai berperilaku berkelanjutan, ada hal yang harus dikorbankan. Apa saja?

Hal pertama adalah anggaran pengeluaran yang harus disesuaikan. Masih banyak produk-produk yang dikategorikan atau dianggap berkelanjutan lebih mahal dari produk lainnya. Hal ini karena pasar yang masih belum besar dibanding produk yang tidak berkelanjutan dan proses produksi yang memang cukup memakan biaya tinggi. Empat tahun terakhir, saya memberanikan diri untuk membeli produk perawatan tubuh yang lebih berkelanjutan, head to toe. Harganya mungkin 3-5 kali lebih mahal, tetapi hal ini saya lakukan untuk menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan lip service semata. Pengorbanan kedua adalah ego. Hingga sekarang, saya masih belajar untuk lebih jarang belanja. Alas kaki terakhir yang saya beli mungkin lebih dari enam bulan yang lalu. Pakaian terakhir yang saya beli adalah kecelakaan, karena ada acara dengan dresscode khusus dan saya tidak memiliki itu. Namun, sebelum itu saya tidak membeli pakaian selama lebih dari enam bulan juga. Bandingkan dengan beberapa teman saya yang membeli pakaian dan alas kaki bahkan setiap bulan!

Itu beberapa pelajaran pribadi terkait bagaimana menjadi lebih bijak dalam pola konsumsi. Lalu, bagaimana kita memilih produk-produk atau kemasan yang mendukung upaya tersebut? Dari hasil diskusi saya dengan Pak Uso, paling tidak ada lima hal yang menjadi pertimbangan beliau bahwa barang dan kemasan tersebut dinilai berkelanjutan. Beliau menyebutnya ‘Rumus Sederhana Barang/Kemasan Berkelanjutan’. Apa saja? Ini dia lima kriteria untuk barang/kemasan berkelanjutan.

1. Redesign. Barang dan kemasan yang dinilai berkelanjutan harus mendorong pengurangan timbulan sampah. Misalnya, barang dan kemasan yang tidak bisa didaur ulang sebelumnya, didesain untuk bisa didaur ulang. Apakah kemasan multilayer (sachet) bisa didaur ulang? Tentu tidak! Ini artinya perusahaan yang menggunakan kemasan seperti ini harus mendesain ulang supaya kemasannya bisa didaur ulang, atau bahkan menggunakan kemasan yang bisa dikompos. Tentunya tetap memperhatikan kualitas isi produk, baik dari segi higienis, lama penyimpanan, dan lain-lain. Contoh lainnya adalah barang dan kemasan yang tadinya bersifat sekali pakai, didesain menjadi bisa digunakan berulang kali. Seperti kantong plastik yang beredar saat ini yang mudah sekali sobek (meski produsennya bersikeras bahwa kantong plastiknya bisa dipakai ulang). Memang bisa, tapi sangat sebentar sekali. Tidak seperti tas kain yang jauh memiliki masa hidup yang lebih lama.

2. Durability. Daya tahan dari barang dan kemasan yang diproduksi pun harus didesain untuk jangka waktu yang panjang. Misalnya, tas belanja kain yang banyak beredar di pasaran perlu dipastikan bahwa dapat digunakan dalam waktu yang lama. Seperti tas belanja kain yang terbuat dari bahan spunbond (istilah lainnya, laken, non woven) yang tersedia dengan model dijahit dan di-press dengan mesin. Tentunya yang di-press dengan mesin kualitasnya lebih rendah dan akan lebih mudah rusak jika dipakai untuk membawa beban yang cukup berat. Tas belanja yang dijahit pun perlu diperhatikan kualitas jahitannya supaya lebih awet.

3. Refurbish. Istilah ini lebih dikenal untuk barang elektronik, salah satunya adalah telepon genggam. Tujuannya adalah untuk memperbaharui barang-barang yang rusak sehingga bisa digunakan kembali. Kualitasnya memang tidak sebagus barang yang baru, tetapi hal ini bisa menghemat banyak sumberdaya, karena memanfaatkan bagian yang masih bagus dan hanya mengganti beberapa bagian yang sudah rusak. Di beberapa toko penjual telepon genggam, biasanya merek iPhone akan lebih banyak dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan di dealer resmi.

4. Refillable. Cukup sulit menemukan toko isi ulang untuk produk sehari-hari, biasanya yang sering ditemukan adalah air minum dalam galon dan tinta printer. Beberapa tahun lalu, salah satu merek perawatan tubuh lokal menyediakan hal serupa, tetapi tidak bertahan lama. Perlu dibuat sistem yang memudahkan konsumen untuk mengakses ini dan tentunya dengan harga yang cukup bersaing.

5. Rechargable. Seperti batere telepon genggam, baterai yang kita gunakan untuk produk lain pun seharusnya bisa diisi ulang. Ada beberapa alternatif baterai di pasaran yang bisa diisi ulang dengan harga yang masih lebih tinggi dibanding baterai sekali pakai. Namun, hal ini masih mudah kita lakukan, lagi-lagi dengan beberapa pengorbanan yang harus dilakukan.

Pastinya masih banyak tips-tips lain yang jauh lebih komprehensif mengenai apa saja kriteria produk berkelanjutan. ‘Rumus Sederhana’ ini merupakan hal kecil yang bisa kita mulai untuk mulai mengubah gaya hidup kita sehari-hari untuk lebih mendukung pembangunan yang berkelanjutan, sebagai upaya menjaga planet bumi dari kerusakan. Bersedia ikut gabung dalam upaya ini?

Photo source: https://www.theenergy.coop/our-impact/commitment-to-sustainability

6 responses to “Lima Kriteria Untuk Barang/Kemasan Berkelanjutan”

  1. dyahsynta says:

    Bersedia banget! Mari dimulai dengan ikut mengurangi frekuensi belanja! *Suliiiiiit*

  2. imma says:

    waaah suka dengan tulisannya. saya juga green generation lo…peduli lingkungan. Cuma akhir-akhir ini lagi boros tisu…lap kain habis, hujaann huuhuuu feeling guilty deh

    • admin says:

      aku kalo kemana-mana bawa sapu tangan sih, di kost sedia tissue juga tp yang terbuat dr bambu, rada mahal, itupun jarang pake kalo gak perlu-perlu amat

  3. Tatat says:

    Yang paling menyebalkan memang poin harga ya. Harga barang yg berkelanjutan atau makanan sehat selalu lebih mahal 😩

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *