Sampah Kemasan Perlu Ditangani Segera

Sampah Kemasan Perlu Ditangani Segera

Ngomongin sampah plastik memang engga bakal beres-beres. Satu hal bisa berkaitan dengan hal lainnya. Beresin satu masalah belum tentu benar-benar menyelesaikan masalah itu sepenuhnya, bisa saja itu berkaitan dengan masalah lainnya. Sama seperti rantai karbon plastik yang panjang, untuk mengurai masalahnya demi mencari solusi aja sama seperti lamanya proses penguraiannya di alam. Setidaknya ada 150juta ton sampah plastik di laut di Bumi kita ini dan akan mencapai dua kali lipat kurang dari 10 tahun. Sebesar 55% ikan yang dijual di pasaran Indonesia tercemar plastik. Kerugian dari sektor pariwisata di Indonesia mencapai $166juta karena faktor sanitasi dan dan kurangnya pengelolaan sampah. Data-data tersebut saya dapatkan dari laporan Ocean Conservancy tentang sampah di laut, berjudul “The Next Wave“, yang baru terbit beberapa hari yang lalu (terlalu banyak data buruk Indonesia yang disebutkan, akan saya ceritakan di lain kesempatan). Lalu apa yang harus dilakukan? Setidaknya ada satu langkah penting yang bisa dilakukan.

IMG_2732

Kegiatan bersih-bersih pantai.

Sebagai perusahaan besar, Danone Indonesia dan Tetrapack menyadari bahwa kemasan pasca konsumsi dari produk yang mereka produksi telah mencemari lingkungan. Jujur saja, saya sudah sangat lama sekali tidak membeli air minum dalam kemasan sekali pakai – kecuali di hotel, diberi oleh jasa transportasi antar kota, sesekali membeli paket makanan dine-in yang pilihannya air mineral atau soda, tentu saja saya memilih air mineral – selain karena ingin mengurangi konsumsi plastik, juga karena faktor komersialisasi air dan penghematan rupiah. Di kost saya pun sekarang, sudah satu tahun ini memakai filter air minum. Air diberikan Sang Pencipta secara gratis, sama seperti halnya dengan udara. Beda halnya dengan kemasan aseptik, saya hingga saat ini masih berupaya penuh mengurangi konsumi minuman dalam kemasan ini. Namun, saya sangat mengapresiasi langkah besar mereka sebagai sebuah perusahaan untuk turut serta dalam penyelamatan lingkungan, khususnya mengendalikan polusi plastik kemasan.

Hari Minggu pagi bertempat di Canggu, Kab. Badung, Bali, pasca bersih-bersih pantai dari sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bersama Danone Indonesia dan Tetrapack, dihadiri pula oleh perusahaan dan organisasi daur ulang sampah, meluncurkan program dropping box sampah kemasan. Program ini dimulai di Provinsi Bali, bekerjasama dengan Circle K, Foodmart, dan Hypermart sebagai gerai ritel yang juga peduli akan pentingnya mengurangi timbulan sampah. Apa sih yang mereka lakukan?

10000000_690483017801440_2417920528695164928_n

Dialog Penangangan Sampah

Danone Indonesia dan Tetrapack bersama-sama dengan gerai ritel Circle K, Foodmart, dan Hypermart, untuk mengumpulkan kembali kemasan pasca konsumsi, tentunya terbatas untuk kemasan botol plastik merek Aqua dan kemasan minuman karton yang diproduksi oleh Tetrapack (dengan merek minuman apapun). Ini yang saya tunggu-tunggu. Selain The Body Shop Indonesia, mana lagi produsen yang menarik kembali kemasan bekasnya? Ini jawabannya. Satu lagi saya temukan merek perawatan tubuh asal Bali, Sensatia Botanical, juga melakukan hal yang sama. Nantinya, perusahan-perusahan yang saya sebut barusan, akan bekerjasama dengan pendaur ulang untuk mengelola kemasan-kemasan tersebut. Ingat akan sesuatu? Ini yang disebut Extended Producer Responsibility (EPR), produsen bertanggung jawab atas kemasan yang mencemari lingkungan. Ini prinsip/konsep lho ya, bukan semata-mata dengan adanya kata “producer” disitu berarti hanya produsen yang disalahkan, mohon untuk tidak melihat sesempit itu. Ada produsen, ada konsumen. Dengan diadakannya fasilitas oleh produsen untuk mengedukasi konsumen dalam mengelola sampah, konsumen pun akan terbantu untuk mengatur gaya hidupnya untuk lebih bertanggung jawab. Bermanfaat? Tentu saja. Dengan demikian, konsumen akan loyal dengan produk Anda. Jangan sampai seperti saya yang tidak loyal dengan produk air minum dalam kemasan karena saat saya mengubah prinsip saya, praktek penarikan kembali kemasan kosong seperti ini saat itu belum ada.

16825546_138480163336994_682281376312983552_n

Peluncuran dropping box kemasan air minum dalam kemasan. Bentuknya bagus!

IMG_2730

Peluncuran dropping box kemasan aseptik. Bentuknya mirip!

Lalu peran pemerintah seperti apa? Pemerintah sebagai regulator tentunya mengatur izin usaha, mengedukasi konsumen, dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah itu sendiri. Baik pemerintah pusat maupun daerah memiliki tanggung jawab untuk mengelola sampah. Apakah benar hanya tugas pemerintah? Tidak juga. Pemerintah mencoba mengatur supaya peran semuanya jelas. Produsen bukan pemerintah (meskipun diberbagai aspek “terlihat” sebaliknya). Produsen diatur supaya menyesuaikan proses produksi, distribusi, dan penjualan sesuai dengan semangat penyelamatan lingkungan. Konsumen pun sama, diatur untuk bertanggung terhadap produk yang dikonsumsi dan sampah yang dihasilkan. Baik konsumen, produsen, dan siapapun yang memiliki akta lahir, kartu keluarga, kartu tanda penduduk, dan paspor dari negeri ini tunduk pada aturan yang berlaku. Jika memang ada yang perlu didiskusikan untuk meminta konfirmasi atau klarifikasi, sampaikan dengan baik.

Dalam hal pengelolaan sampah, pemerintah punya tanggung jawab untuk menurunkan timbulan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA). Target Indonesia Bersih Sampah 2020 bukan main-main, bukan hanya slogan semata, atau semangat yang dikoar-koar saban 21 Februari. Ini harus dipandang sebagai sesuatu yang serius bahwa penting bagi kita semua, apapun status dan jabatannya, untuk mengurangi timbulan sampah. Pemerintah tidak ada apa-apanya tanpa kita, sebagai masyarakat dan konsumen, begitu halnya dengan produsen yang tidak akan meraup untung jika kita para konsumen tidak peduli akan hal ini. Konsumen masa kini akan lebih peduli terhadap nilai tambah perusahaan yang peduli akan isu-isu sosial dan lingkungan.

Mulai dengan satu hal kecil. Manusia memang diciptakan tidak sesempurna itu (manusia memang sempurna, jika dibandingkan makhluk hidup lainnya), ada proses-proses yang perlu dilalui untuk menjadi lebih baik. Pemerintah memberikan atensi penuh terhadap permasalahan sampah, membuat peraturan, bekerjasama dengan perusahaan dan kelompok-kelompok masyarakat merupakan hal yang baik dan perlu dijaga serta ditingkatkan kualitasnya. Perusahaan yang memiliki komitmen terhadap perbaikan lingkungan juga patut diapresiasi dan diajak untuk lebih baik lagi. Konsumen pun perlu membatasi pola konsumsi yang berpotensi menjadi sampah dan mulai mengelola sampah. Pilihan ada di tangan Anda. Perlu diingat bahwa kerusakan lingkungan tengah terjadi saat ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *