Fellowship Story – Chapter Finale

Fellowship Story – Chapter Finale

Alhamdulillah. Wasyukurillah.

Akhirnya setelah 2 tahun 6 bulan lulus juga dari Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina. Sejak dulu dari zaman pascasarjana selalu ingin mempersembahkan penelitian yang berbeda dengan yang lain. Waktu skripsi dulu hasilnya tidak begitu menyenangkan, tetapi untuk tesis kali ini, Alhamdulillah, karena dengan sepenuh hati, hasilnya cukup membuatku tersenyum.

Tesisku ini mengangkat pekerjaanku sehari-hari, khususnya mengenai pembangunan berkelanjutan dan tentunya strategi komunikasi. Baru sadar banget di tahun kedua perkuliahan bahwa topik mengenai strategi komunikasi adalah hal yang sangat saya minati. Dosennya pun paling favorit, yaitu Ibu Dyah Sugiyanto, yang juga merupakan Kepala Humas di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Kepala Ikatan Pranata Humas Indonesia (Iprahumas). Gak heran kalau emang masalah strategi komunikasi beliau jagonya. Sayangnya, beliau bukan dosen pembimbingku. Dosen pembimbingku juga keren banget karena selain akademisi, beliau juga merupakan produser film. Salah satu film yang beliau tangani adalah Laskar Pelangi. Beliau memiliki spesialisasi di kajian media.

Waktu 2 tahun 6 bulan sebetulnya molor bagi penerima beasiswa seperti saya. Beasiswa diberhentikan di semester ke-4, dan selebihnya menjadi tanggung jawab mahasiswa. Saya sebisa mungkin hanya menanggung penambahan satu semester saja. Maklum, sudah tidak lagi menjadi tanggungan orang tua. Alhamdulillah, berkat kegigihan dan niat yang baik, bisa selesai juga. Hatur nuhun ya semua.

Sidang bulan Januari 2019, dinyatakan lulus bulan Februari 2019, dan wisuda di bulan April 2019. Ternyata lulus dengan predikat “Dengan Pujian”, sesuatu yang saya anggap mustahil ketika kuliah S1 dulu. Kalau dulu waktu kuliah S1 nilainya berbentuk rantai karbon, kuliah S2 ini ternyata isinya ‘teriakan’ semua. Ternyata kalau kita sekolah sesuai dengan minat kita, pastinya kita selalu senang dan passionate menjalaninya dan nilai bagus pun akan mengikuti. Seorang bijak mengatakan “hasil tidak akan mengkhianati usaha.”

Ternyata kalau kita sekolah sesuai dengan minat kita, pastinya kita selalu senang dan passionate menjalaninya dan nilai bagus pun akan mengikuti.

Rahyang Nusantara (Lulusan Terbaik Ketiga Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina)

Ohya, jadi judul penelitian tesisku adalah “Strategi Komunikasi Kampanye Pembangunan Berkelanjutan a la Generasi Milenial (Studi Kasus Pada Anggota Sustainable Development Solutions Network (SDSN) Youth di Indonesia dalam mengampanyekan Sustainable Development Goals (SDGs))”. Menurutku, penelitian ini relevan dengan isu kekinian; anak muda, kampanye, pembangunan berkelanjutan. Bagaimana saya mengungkap pola komunikasi anak muda dalam perannya di pembangunan berkelanjutan. Hasil yang aku temui cukup menarik. Salah satunya adalah bagaimana anak muda ini memanfaatkan semua saluran media digital sebagai sumber data, termasuk WhatsApp group lho.

Ada yang menarik sewaktu menerima sertifikat lulusan terbaik oleh Pak Rektor. Beliau menanyakan apakah saya ada rencana melanjutkan ke jenjang selanjutnya, yaitu Program Doktor. Saya ketika itu hanya merespons “Insya Allah”. Dan kepikiran sampai sekarang. Apakah seorang saya ini layak dan mampu untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi? Let us wait and see. Engga mau muluk-muluk atau ambisius, berjalan saja mengalir dengan sendirinya.

Dibanding teman-teman saya lainnya yang melanjutkan kuliah magister di luar negeri atau di perguruan tinggi favorit lainnya, pilihan saya beda sendiri. Menurut saya, pilihan melanjutkan pendidikan dan mau kuliah dimana adalah pilihan yang sifatnya personal, karena pastinya itu sesuai pertimbangan dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada dirinya. Pilihan saya di Universitas Paramadina disesuaikan dengan kondisi dimana saya masih harus bekerja di tempat saya bekerja saat ini dan keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Untungnya, hanya Universitas Paramadina-lah yang sesuai dari segi waktu dan adanya tawaran beasiswa bagi aktivis LSM. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Kalau saja saya telat mendaftar, mungkin saja saya tidak akan lanjut kuliah lagi (karena program beasiswa tersebut sudah diberhentikan di tahun berikutnya). Dan saya sangat bersyukur kuliah disini. Sangat sangat bersyukur. Hatur nuhun, ya!

Buat para anak muda di luar sana yang mendapatkan tekanan sosial terkait pilihan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan pilihan perguruan tinggi yang begitu banyak, dengarkan kata hatimu. Kamu yang tahu situasi dan kondisimu sendiri, bukan orang lain. Saran dan rekomendasi orang lain bukanlah mutlak. Mereka hanya second or third opinion. You’re the only one who can decide what’s best for you (Stuart Wilde, seorang penulis dari Inggris).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *