Fellowship Story – Chapter 5

Fellowship Story – Chapter 5

Setidaknya sampai tahun 2017 kemarin, satu-satunya tulisan ilmiah yang saya miliki hanyalah skripsi, yang saya yakini hasilnya juga tidak bagus-bagus amat. Namun, dari situlah saya belajar banyak hal, seperti percaya pada kemampuan diri, kemampuan untuk terus belajar hal baru, lebih disiplin, hingga meningkatkan kemampuan untuk menulis. Semuanya berubah ketika saya memutuskan untuk mengikuti lomba karya ilmiah yang diadakan oleh kampus saya kuliah pascasarjana, Universitas Paramadina. Entah apa yang mendorong saya sampai akhirnya berani untuk mengikuti lomba tersebut. Jika saya ingat-ingat lagi, semasa saya kuliah sarjana dulu di Universitas Padjadjaran, lomba seperti ini yang saya hindari. Saat itu, saya tidak pernah percaya bahwa saya mampu secara akademik. Apalagi saat itu saya mengambil ilmu sains yang, menurut saya, tertatih-tatih untuk diikuti. Satu-satunya kenangan saya bersinggungan dengan lomba seperti itu adalah ketika membantu teman-teman saya yang sedang mengikuti lomba karya ilmiah. Saat itu saya hanya membantu untuk meminjamkan laptop dan menjadi operator presentasi!

Butuh waktu empat tahun hingga saya memutuskan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain karena memang ada kesempatan mendapatkan beasiswa, saya merasa penting untuk mendukung kegiatan profesional saya. Nyatanya, banyak sekali hal yang saya kembangkan dan tingkatkan di kegiatan profesional setelah menjadi mahasiswa lagi. Tugas-tugas kuliah yang banyak berupa tulisan ilmiah dan analisis-analisis mendalam, lama-kelamaan berdampak pada bagaimana saya mengerjakan aktivitas-aktivitas profesional.

Tahun lalu, Universitas Paramadina mengadakan lomba karya ilmiah untuk “The 6th Paramadina Research and Community Service Day”. Ketika saya membaca informasinya, saya langsung tertarik. Satu-satunya alasan adalah karena ada topik “Kemitraan dan Komunikasi Sosial Yang Mencerahkan”. Nah, dari alasan topik itu, ada dua hal yang saya anggap jadi kekuatan saya harus ikutan. Pertama, saya pernah mengikuti Executive Program for Sustainable Partnership (EPSP) beberapa bulan sebelumnya dan saya pernah mengadakan lokakarya untuk ritel dalam mengembangkan strategi komunikasi pengurangan penggunaan kantong plastik. Dengan dua hal ini yang sudah pernah saya lakukan, mengapa tidak saya ikuti lombanya?

Namun, tantangan yang muncul adalah: menulis. Saya cukup sering menulis blog, meski tulisannya tidak bagus-bagus, tetapi menulis secara ilmiah? Hal ini cukup berat buat saya. Selain karena masih belum percaya pada kemampuan diri terhadap sesuatu yang ilmiah, saya tidak punya pengalaman dalam menulis karya ilmiah selain skripsi. Meski demikian, saya memulai untuk menulis dan mulai studi literatur. Setelah pada skripsi saya menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen, untuk karya ilmiah ini pertama kalinya saya menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain focus group discussion (pendekatan human-centered design). Lagi-lagi saya kurang begitu percaya diri dengan melakukan analisis kualitiatif karena saya merasa kemampuan saya menganalisis dan menuangkannya ke dalam kata-kata kurang tajam. Meski demikian, saya tetap melanjutkan proses penulisan. Harus dicoba toh, supaya kita tahu batasan kita sesungguhnya ada dimana.

Untuk membantu tulisan ini, saya meminta bantuan dosen favorit saya di kampus, yaitu Dr. Dyah Rachmawati Sugiyanto. Hanya butuh satu kali “bimbingan” tatap muka dan selanjutnya satu kali via surat elektornik. Sungguh efektif dan saya takut sekali bahwa tulisan saya ini akan kurang bagus hasilnya. Namun demikian, dalam proses kita menulis akan ditemui banyak hal-hal baru, terlebih lagi apabila kita banyak membaca jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku, dan referensi lainnya. Sehingga kualitas kita dalam menulispun akan semakin meningkat. Orang bijak mengatakan “experience is the best teacher“, betul? Saya sungguh sepakat dengan pernyataan itu.

Beberapa hari sebelum saya berangkat ke Jerman untuk menghadiri Conference on Parties (COP) ke-23, saya mengirimkan tulisan saya berjudul “Model Kemitraan Strategis Pada Bisnis Ritel (Kajian Komunikasi Bisnis Pada Kampanye Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik)”. Saya suka hasil akhirnya. Mungkin belum sempurna, tetapi saya bangga karena saya ternyata bisa kok menulis karya ilmiah. Saya selalu ingat kutipan dari Alm. Nelson Mandela, “it always seems impossible until it’s done“.  Awalnya terlihat tidak mungkin, tetapi setelah dijalani proses pembelajarannya ternyata tidak sesulit itu. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan di hadapan kita yang harusnya dilalui. Hal ini juga memperkuat kutipan Céline Dion ketika ia melakukan kunjungan ke China tahun 2008, “if you follow your dreams, it means you follow your heart. If you do follow your heart, I don’t think you can go wrong“. Intinya adalah “believe in yourself and be truth to yourself“. All is well.

Satu bulan kemudian adalah saatnya presentasi karya ilmiah. Cukup grogi juga, karena mungkin ini akan seperti sidang tugas akhir. Namun, ternyata tidak demikian. Tidak cukup banyak peserta yang ada di ruangan presentasi, karena dibagi kedalam beberapa ruangan sesuai dengan topik. Saya jadi cukup bisa mengendalikan emosi. Tidak sulit untuk melakukan presentasi, karena hal ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari untuk melakukan presentasi kepada publik. Bahkan hingga ke luar negeri. Rekor saya hingga saat ini adalah presentasi di Filipina dan, yang paling besar, di Jerman. Namun, presentasi akademik adalah hal yang harus dipersiapkan sebaik mungkin karena ini tentang bagaimana kita mempertahankan pemikiran kita.

Presentasi. Foto Oleh Dira Turner.

 

Terima kasih Dira Turner dan Cinta Azwiendasari yang sudah datang memberikan dukungan moril.

 

Hal yang tidak disangka-sangka kemudian terjadi. Pengalaman pertama menulis karya ilmiah ini diganjar dengan penghargaan “Best Paper”! Menariknya, tulisan saya ini mengalahkan dosen-dosen yang pastinya punya pengalaman dalam melakukan penelitian dan menulis karya ilmiah. Meskipun ini belum sekelas Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), saya sangat terkejut dan juga merasa bangga. Apa yang selama ini saya takutkan dan khawatirkan ternyata tidak terbukti. Itu tadi, percaya dan jujur pada diri sendiri adalah kunci penting.

Foto bersama peserta karya ilmiah dan panitia pelaksana.

 

Candaan saya bersama sahabat mengenai pengalaman ini adalah: akankah saya melanjutkan pendidikan doktor dan menjadi dosen? Jawaban kami saat itu adalah “lanjutkan!“. Kami hanya bisa tertawa. Mana mungkin baru satu kali ikutan lomba karya tulis dan minim pengalaman meneliti begitu percaya diri akan menjadi dosen maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Well, sekali lagi jangan ragukan kemampuan diri. Believe in yourself and be truth to yourself. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *