Bakso, Alasan Menolak Menjadi Vegetarian

Bakso, Alasan Menolak Menjadi Vegetarian

Bakso, siapa yang tidak mencintai makanan terenak seluruh dunia ini? Wah, sayang sekali jika ternyata ada yang tidak mencintainya. Saya, salah satu penggemar berat bakso, dari bakso kampung hingga bakso kota.

Menurut Wikipedia, bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, akan tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang, bahkan daging kerbau. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, taoge, tahu, terkadang telur dan ditaburi bawang goreng dan seledri.

Bakso Semar. Sumber: http://baksoguide.blogspot.co.id/2015/12/bakso-semar-bakso-rusuknya-wajib-dicoba.html

Darimana sih asalnya bakso? Diambil dari Wikipedia lagi nih, bakso memiliki akar dari seni kuliner Tionghoa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari istilah ‘bakso’ berasal dari kata Bak-So, dalam Bahasa Hokkien yang secara harfiah berarti ‘daging giling’. Karena kebanyakan penduduk Indonesia adalah muslim, maka bakso lebih umum terbuat dari daging halal seperti daging sapi, ikan, atau ayam. Kini, kebanyakan penjual bakso adalah orang Jawa dari Wonogiri dan Malang. Tempat yang terkenal sebagai pusat Bakso adalah Solo dan Malang yang disebut Bakso Malang. Bakso Malang dan bakso Solo adalah masakan bakso dan disajikan dengan khas Jawa. Bakso berasal dari China tetapi berbeda dengan bakso Malang dan Solo. Bakso China biasanya terbuat dari babi atau makanan laut dan warnanya agak kecokelatan serta bentuknya tidak bulat sekali. Sedangkan bakso Malang dan Solo terbuat dari daging sapi, berwarna abu abu dan bentuknya bulat sekali. Bakso China biasanya tidak disajikan dengan kuah melimpah berbeda dengan bakso Malang dan Solo yang disajikan dengan kuah melimpah.

Bakso Boedjangan. Sumber: https://www.baksoboedjangan.com/bakso-special-boedjangan?lightbox=dataItem-iyf8m0yh

Varian bakso sendiri ada berbagai macam, mulai dari bakso daging, bakso urat, bakso telur, bakso kosongan, dan lain-lain. Yang paling heboh ada juga bakso ‘kepala bayi’ yang ukurannya memang sebesar kepala bayi. Saya pernah loh mencobanya!

Nah, daripada terlalu banyak bahas terkait asal usul bakso, saya mau coba merekomendasikan bakso yang selama ini menjadi favorit saya, baik yang berasal dari Bandung (tempat kelahiran dan tempat tinggal) dan Jakarta (tempat saya mengais harta benda). Cek daftar berikut ya (diurutkan berdasarkan paling terpuji menurut saya):

  1. Mas Edi Baso Solo (Bandung). Bakso ini sudah saya cicipi sejak masa-masa sekolah dasar, artinya hampir 20 tahun lalu dan masih menjadi favorit. Dulu, Mas Edi masih dorong-dorong gerobak untuk berjualan. Sejak lima tahunan lalu, Mas Edi sudah punya tempat sendiri untuk berjualan. Tetap laku! Dulu, dia yang mengejar konsumen. Sekarang, konsumen yang rela antri untuk membeli baso legendaris di Antapani ini. Kalau ke Bandung dan lewat kawasan Antapani, jangan lupa mampir yah! Alamat: Jl. Kuningan Raya No. 22, Antapani, Bandung Timur, Bandung.

    Sumber: https://www.foody.id/bandung/mas-edi-baso-solo-antapani

  2. Bakso Semar (Bandung). Bakso ini pada awalnya berada di Jalan Semar, tapi sekarang cabangnya ada banyak di Bandung. Salah satu favorit saya ada di Cihampelas karena 24 jam (kalo pulang agak malam dari Jakarta, bisa mampir dulu). Ada dua hal yang menurut saya menjadi kunci penting suatu menu bakso menjadi terpuji, yaitu baksonya sendiri dan kuah. Bakso Semar ini memiliki bakso yang terpuji setelah Baso Solo Mas Edi. Paduan tepung tapioka dan dagingnya sangat pas, bahkan menurut saya dagingnya lebih banyak. Kuahnya sendiri gurih (hidup micin!). Apalagi kalo minta tetelan, beuh semakin dahsyat lagi rasanya. Kalo ke Bandung, jangan lupa mampir kesini yah! Alamat: Jl. Cihampelas No.68, Tamansari, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40116. Harga: di atas Rp15.000 dan dibawah Rp30.000.
  3. Mie Baso Daging Sapi Rudal (Kabupaten Bandung Barat). Bakso ini menjadi pemuas rasa rinduku kepada Mas Edi Baso Solo, karena pindah rumah dari Antapani ke Ngamprah (Googling lah dimana ini berada!). Seperti namanya, ‘rudal’ menandakan bahwa bakso ini punya ukuran super dari biasanya. Baksonya memang berisi telur rebus setengah ukuran dan daging cincang. Ada juga yang bervarian bakso urat. Kebayang donk gimana puasnya sehabis makan bakso ini? Kuahnya sendiri lebih gurih dan lekoh (duh bahasa Indonesianya apa ya?) dari dua bakso di atas. Minta mencoba? Alamat: Komplek Bukit Permata Cimahi, Jl. Raya Bukit Permata Blok I1 No.18, Cilame, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40552. Harga: di atas Rp15.000 dan dibawah Rp30.000.
  4. Bakso Boedjangan (Bandung/Jakarta). Bakso ini cukup hipster, bergaya anak muda zaman sekarang dalam menikmati sebuah bakso. Menunya seperti bakso pada umumnya, tetapi ada beberapa variasi seperti bakso keju mozarella, bakso wagyu, bakso super pedes (yang isinya daging ditambah cabe-cabe biar mulutnya jadi lambe turah semua), dan lain-lain. Cabangnya banyak banget di Bandung, bahkan sampai juga ke Cimahi dan Jakarta. Untuk ukuran bakso, harga yang ditawarkan cukup murah. Berkisar antara Rp15.000-20.000 per porsi.
  5. Bakso Jawir (Jakarta). Nah, setelah pindah ke ibukota, saya cukup depresi karena belum menemukan bakso yang enak. Setelah coba sana sini, ternyata deket kostan ada (kemana aja selama ini?)! Bakso Jawir ini ada di beberapa lokasi di Jakarta (cek disini). Harganya pun di atas harga bakso yang biasa saya beli di Bandung, di atas Rp20.000 hingga Rp50.000. Bahkan harga untuk gerai di dalam pusat perbelanjaan modern lebih mahal lho, hiks. Alamat: Jl. Kemang Selatan Raya No. 150B, Kemang, Jakarta.

    Sumber: http://baksojwr.com/dishes

Itulah lima besar bakso yang selama ini menjadi favorit dan selalu konsumsi berulang-ulang. Bakso, menjadi alasan utama mengapa tidak tertarik untuk menjadi vegan atau vegetaria. Rasa-rasanya engga tega meninggalkan penemuan terbesar kuliner bakso di dunia ini. Ada beberapa bakso yang saya sebutkan sebelumnya yang juga menjadi favorit, seperti bakso ‘kepala bayi’. Selanjutnya, aku penasaran dengan bakso ‘beranak’! Yuk, siapa yang mau coba juga?

4 responses to “Bakso, Alasan Menolak Menjadi Vegetarian”

  1. Jiah yg jakarta teu kaci karena saya ngga bisa nyobain 😭😭😭

  2. Bakso sekarang mah udah variatif
    pedesnya berlevel-level
    ukurannya gede-gedean

    belum lagi dengan bakso yang didalamnya dikasih lelehan keju
    makin kekinianlah bakso-bakso sekarang hmmm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *