It’s Time To #BreakFreeFromPlastic

It’s Time To #BreakFreeFromPlastic

I’ve got to break free
I want to break free, yeah
I want, I want, I want, I want to break free.

Begitulah penggalan lirik lagu “I Want To Break Free” yang dipopulerkan oleh Queen. Dengan semangat yang sama seperti lagu tersebut, pada tahun lalu, kampanye Break Free From Plastic digagas dan diluncurkan oleh lembaga-lembaga non profit seluruh dunia! Bisa dikatakan bahwa ini adalah gerakan terbesar dalam memerangi polusi plastik secara global.

Secara umum, gerakan ini percaya bahwa dunia ini; dimana tanah, langit, lautan, dan air adalah rumah bagi kekayaan bagi kehidupan, bukan kekayaan untuk plastik; bahwa udara yang kita hirup, air yang kita minum dan makanan yang kita makan, bebas dari racun akibat produk sampingan polusi plastik. Di dunia ini prinsip dari keadilan lingkungan, keadilan sosial, kesehatan masyarakat, dan hak asasi manusia yang mempengaruhi kebijakan pemerintah, bukan tuntutan para elit dan korporasi. Tujuan utama gerakan ini adalah masa depan yang bebas dari polusi plastik

Mengapa harus terbebas dari plastik? Jawabannya pernah dibahas disini. Pada intinya, bumi ini “sakit” akibat terlalu banyaknya plastik yang membebani dalam upayanya memurnikan kondisi bumi. Dalam konsep keberlanjutan (sustainability), seharusnya apa yang terjadi di bumi harus sesedikit mungkin menggunakan bahan baku yang berasal dari dalam perut bumi (seperti minyak bumi dan hasil tambang lainnya) dan sesedikit mungkin hasil samping yang dikembalikan ke bumi (seperti sampah). Namun, kondisi yang terjadi saat ini adalah kebalikannya, mengambil kekayaan bumi sebanyak-banyaknya dan membuang sampah sebanyak-banyaknya. Hal ini perlu segera dihentikan!

Lalu, apa yang harus dilakukan? Seperti yang dilakukan oleh Perkumpulan YPBB Bandung, yang sedang menerapkan model kota nol sampah (zero waste city model) di Kota Bandung. Seperti yang disebutkan dalam website mereka, program ini menargetkan pengurangan jumlah sampah yang diangkut ke TPS/TPA sebanyak 70% dalam 2 tahun melalui pemisahan sampah dari sumber dan metode pengomposan yang disesuaikan dengan kondisi wilayah, serta meningkatnya partisipasi warga dalam mengelola sampah baik skala rumah tinggal dan komunal melalui ketaatan pemilahan mulai dari sumber.  Sehingga bisa mencegah masuknya 62.000 ton sampah (14.000 plastik) per tahun ke sungai atau laut!

Untuk menerapkan break free from plastic ternyata tidak hanya bisa dilakukan secara individu, tetapi sekala kota sekalipun bisa dilakukan untuk mendapatkan dampak yang luar biasa. Jika kita kembali lagi dengan konsep berkelanjutan yang menggunakan sesedikit mungkin sumbar daya alam dan membuang sesedikit mungkin sampah, melalui penerapan zero waste city model ini diharapkan dapat mendorong pembatasan konsumsi terhadap plastik-plastik sekali pakai dan mendaur ulang sebanyak mungkin sampah, sehingga kebocoran yang terjadi di lingkungan bisa berkurang. Hal ini tentunya bisa sekali dilakukan.

Salah satu kisah sukses model kota nol sampah adalah di salah satu kota di Filipina, yaitu San Fernando. Dengan menerapkan model ini, jumlah sampah yang berhasil dikurangi masuk ke tempat pembuangan sampah (TPA) adalah 78% dan sampah-sampah tersebut didaur ulang. Hal ini berhasil berkat kolaborasi pemerintah dengan penduduk yang berhasil mengubah pola pikir mereka untuk memisahkan sampah sesuai jenisnya dari rumah dan kemudian dikelola secara komunal.

Jika Filipina saja bisa, Indonesia pun pasti bisa. Go for zero waste!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *