Fellowship Story – Chapter 4

Fellowship Story – Chapter 4

Tidak terasa sudah dua semester dilalui. Artinya, tinggal dua semester lagi untuk mendapatkan gelar magister ilmu komunikasi. Semoga dilancarkan. Amin!

Semester kedua kali ini selain disibukkan dengan kuliah di lokasi yang baru (dari Energy Building, SCBD ke Gedung Tempo, Palmerah), saya diajak untuk mengikuti Executive Program for Sustainable Partnership (EPSP) yang sudah memasuki batch kelima. EPSP ini merupakan program kemitraan antara CCPHI, Universitas Paramadina, dan Ford Foundation. EPSP adalah suatu program inisiatif untuk menjawab tantangan terhadap globalisasi yang merujuk pada Sustainable Development Goals (SDGs), bisnis inklusif, dan kemitraan antar sektor. EPSP berlandaskan (platform) asas Tata Kelola yang Baik (Good Governance), Shared Value dan Keberlanjutan (Sustainability).

EPSP bertujuan untuk membentuk para eksekutif yang mampu (1) membangun kepercayaan antar sektor serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai kemitraan yang efektif, (2) menjawab kebutuhan terhadap kemitraan lintas sektoral dalam konteks sosial, ekonomi dan budaya dan (3) mengembangkan, mengimplementasikan serta mengevaluasi kemitraan yang berkelanjutan melalui pendekatan pembelajaran (lessons-learned) dan berbasis bukti (evidence based). Saya diajak oleh Mba Dian Rosdiana, yang merupakan senior saya di kampus dan juga bagian dari CCPHI. Sangat senang sekali akhirnya bisa mengikuti program ini, selain karena ilmunya yang bisa saya terapkan di kehidupan profesional saya dan juga saya mendapat beassiwa untuk program ini, alias gratis…tis…tis…!

Program ini berlangsung dalam jangka waktu tiga bulan. Terdapat dua sesi pemaparan materi dari para ahli (pemerintahan, akademisi, pelaku bisnis, LSM), sesi prototyping model kemitraan yang berkelanjutan, dan wisuda. Pasca mengikuti kegiatan ini, setidaknya saya mulai melatih diri untuk selalu menggunakan model-model kemitraan pada setiap program-program yang melibatkan berbagai pihak. Dengan begitu, saya bisa melihat bagaimana peran masing-masing pihak untuk bersama-sama mencapai suatu tujuan, berdasarkan kapasitas dan kompetensinya masing-masing.

Setidaknya dari program ini, saya mendapatkan tiga hal, yaitu:

(1) Berkelanjutan (atau sustainability) adalah 3P (planet, people, profit)

Saya cukup bosan dengan berbagai opini orang-orang yang lebih mengidentikakan berkelanjutan itu terbatas dalam jangka waktu saja. Padahal, lebih dari itu. Berkelanjutan itu melihat setiap aktifitas setidaknya dari tiga kacamata, yaitu planet (lingkungan hidup), people (sumber daya manusia), dan profit (ekonomi). Jika ketiga hal ini berjalan beriringan, jangka waktu adalah bonus. Semakin kita melindungi lingkungan hidup, meningkatkan kesejahteraan  manusia, keuntungan ekoomi akan mengikuti dan tentunya aktifitas kita di bumi ini pun semakin lebih panjang. Bayangkan apa jadinya apabila cadangan minyak bumi benar-benar habis, berapa banyak aktifitas yang terhenti karena tidak melakukan tindakan pencegahan dengan beralih pada sumber energi terbarukan?

(2) Kemitraan ini menyeimbangkan peran, menurunkan ego

Banyak tipe atau model dalam kemitraan yang berkelanjutan. Setidaknya semuanya mengandung unsur pemerintah, akademisi, kelompok masyarakat (LSM, media massa), dan filantropi dan bisnis. Biasanya yang ditemukan sehari-hari adalah salah satu pihak lebih tinggi daripada yang lainnya ketika mereka menyebut itu “kolaborasi” atau “kemitraan”. Padahal sesungguhnya adalah bagaimana berbagai pihak tersebut dengan kepentingan yang sama menurunkan ego masing-masing dan menyejajarkan diri untuk mencapai tujuan bersama. Penuh tantangan pastinya, tetapi bukan hal yang mustahil, ya kan?

(3) Aksi nyata

Teori mengenai keberlanjutan dan kemitraan hanyalah akan bertahan di dalam diri kita jika tidak diterapkan di aktifitas sehari-hari. Tidak akan ada perubahan yang diinginkan apabila teori-teori tersebut tidak diterapkan dalam berbagai aktifitas, baik profesional maupun bukan. Sudah banyak cerita sukses dari kemitraan yang berkelanjutan baik di dalam maupun luar negeri. Maukah kita menjadi bagian dari cerita sukses tersebut atau hanya cukup bermimpi? Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya. Satu hal yang perlu diingat adalah dunia ini butuh perubahan. Mau menjadi bagian dari perubahan atau tidak?

EPSP Batch ke-6 akan dibuka dalam waktu dekat. Informasi dan pendaftaran bisa dilihat di tautan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *