Mengapa emisi harus menjadi perhatian?

Mengapa emisi harus menjadi perhatian?

Saya cukup tergelitik dengan komentar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menyebut LSM (lembaga swadaya masyarakat) sensitif terhadap emisi. Saya tidak tahu motif beliau mengatakan ini dalam konteks menyindir atau hal lain, tetapi saya merasa perlu menjelaskan dari perspektif pribadi mengapa LSM sensitif terhadap emisi. Sekadar informasi, hal ini berkaitan dengan LSM lingkungan yang menolak pembangunan teknologi termal dalam menyelesaikan permasalahan sampah (insinerator, pirolisis, gasifikasi, plasma arc, dan lain sebagainya) yang diatur oleh Peraturan Presiden dimana hal ini yang melatarbelakangi LSM lingkungan mengajukan uji materil kepada Mahkamah Agung tahun lalu, dan kemudian uji materil diterima sehingga Peraturan Presiden dibatalkan. Pengalaman saya mungkin baru 5 tahun di isu persampahan, berbeda dengan pemerintahan atau ahli-ahli sampah lainnya yang lebih dari 30 tahun berkecimpung dalam isu pengelolaan sampah. Namun, masalah emisi ini masalah jangka panjang dan saya sebagai generasi yang mereka sebut-sebut sebagai pemimpin masa depan merasa perlu untuk memperjuangkan masa depan saya yang bebas emisi.

Artikel yang menyebutkan LSM sensitif dengan emisi.

Artikel yang menyebutkan LSM sensitif dengan emisi (Kompas, edisi 3 Mei 2017).

Emisi? Apa itu?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, emisi adalah pemancaran cahaya, panas, atau elektron dari suatu permukaan benda padat atau cair. Dalam konteks penggunaan teknologi termal dalam mengelola sampah, emisi yang dimaksud adalah pelepasan pelbagai pencemar ke udara, termasuk gas asam yang terdiri dari NOx, SOx, HCl, dan Hidrogen Bromide; pencemar berbahaya dan beracun, berupa logam berat merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (Ar), kromium (Cr), kadmium (Cd), benzene (Be) dalam gas buang yang dilepas ke cerobong; pencemar organik persisten yang terdiri dari dioxin (PCDD) dan furan (PCDF), hexachlorobenzene (HCB), polychlorinated byphenils (PCBs), PAHs, tetrachloroethylene, naphthalene dan brominated dioxins, dalam wujud PM 10, PM 2.5, dan nanoparticles. Selain emisi, teknologi termal juga menghasilkan residu pembakaran berupa abu terbang (fly ash) dan abu (bottom ash), serta kerak yang merupakan bahan beracun dan berbahaya (B3) dalam jumlah yang cukup signifikan, yaitu 25% dari jumlah sampah yang dibakar (1)

Apakah emisi harus dikurangi?

Tentu saja. Meski emisi dari sektor pembangkit listrik dan transportasi memberikan kontribusi relatif kecil saat ini, namun jumlahnya berkembang dengan cepat dan akan mencapai 0,8 Gt CO2e dan 0,4 Gt CO2e pada tahun 2030. Emisi di sektor pembangkit tenaga listrik bertambah lebih cepat dari sektor-sektor lain sebesar 8 persen per tahun dan mencapai 810 MtCO2e pada tahun 2030. Hal ini didorong oleh bertambahnya kebutuhan energi yang sangat cepat dan ketergantungan pada pusat pembangkit tenaga listrik tenaga batu bara (2). Bukankah dengan membangun teknologi termal dapat menambah emisi? 

Terlebih lagi komitmen Indonesia meratifikasi Perjanjian Paris yang menargetkan pemangkasan 29% emisi gas rumah kaca pada 2030 sebagai wujud komitmen Indonesia dalam mencegah dampak buruk perubahan iklim lingkungan (3)

Apa yang terjadi jika tidak ada upaya pengurangan emisi?

Teknologi termal menimbulkan ancaman yang serius bagi lingkungan hidup dan menimbulkan resiko buruk bagi kesehatan. Sebagian besar dari gas beracun dan berbahaya dari teknologi termal bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker pada manusia. Ahli Kimia Lingkungan dan Toksikologi, Profesor dari St. Lawrence University, New York, USA, Paul Connett, Ph.D. menyatakan bahwa insinerator modern yang mulai muncul pada tahun 1970-an dan 1980-an, telah meninggalkan warisan berupa tingkat dioksin dan senyawa terkait yang sangat tinggi dalam makanan, jaringan, bayi, dan lingkungan kita. Polutan yang dikeluarkan insinerator termasuk logam berat beracun, dioksin, dan senyawa terkait dioksin. Terdapat beribu-ribu senyawa terkait dioksin ini: chlorinated dan brominated dioxins, furans dan biphenyls; mixed chlorinated dan brominated dioxins, furans dan biphenyls; polybrominated dan polychlorinated biphenyl ethers; polybrominated dan polychlorinated napthalenes; dan belerang dan nitrogen yang serupa dengan semua di atas. Lebih parah lagi, ada beberapa racun yang sangat kuat atau permanen yang muncul dalam bentuk nanopartikel (4). 

Apa yang harus dilakukan?

Prof. Paul Connett, Ph.D., menyatakan bahwa masyarakat perlu tiga hal yang harus dilindungi dari emisi beracun:

1) peraturan yang kuat,

2) pemantauan ilmiah, dan

3) penegakan peraturan oleh pemerintah secara kokoh.

Jika pemantauan atau penegakan hukum lemah, masyarakat tidak dilindungi oleh peraturan yang kuat. Sebagai contoh, beberapa peraturan lingkungan hidup terkuat di dunia pernah diberlakukan di negara bekas Uni Soviet, tetapi nyatanya tidak mencegah polusi lingkungannya karena peraturan ini tidak ditegakkan (5)

Global Alliance for Incinerator Alternative (GAIA), menjelaskan bahwa penyelesaian masalah sampah dengan pendekatan zero waste (nol sampah) adalah jawabannya. Zero waste berarti menetapkan tujuan baru untuk bagaimana kita hidup di dunia ini – yang bertujuan untuk mengurangi apa yang kita buang di tempat pembuangan sampah dan insinerator – dan untuk membangun kembali ekonomi lokal kita untuk mendukung kesehatan masyarakat, keberlanjutan, dan keadilan. Pendekatan zero waste menghormati semua lapisan masyarakat, sehingga fasilitas pengelolaan sampah tidak  hanya terkonsentrasi pada masyarakat miskin dan terpinggirkan. Ini tentang berinvestasi ke solusi yang nyata, mendukung transparansi pemerintah daerah, dan memberantas korupsi.

Upaya ini berbicara tentang pengorganisasian masyarakat, pendidikan, dan demokrasi, sehingga semua warga negara dapat berpartisipasi dalam rencana pengelolaan sumber daya lokal, sehingga dana didistribusikan secara adil, sehingga semua pelaku usaha memahami dan memenuhi peran mereka dalam meminimalkan limbah dan merancang produk untuk masa depan. Strategi yang diakukan dalam mendukung upaya-upaya zero waste adalah:

  • Mengurangi konsumsi dan timbulan sampah;
  • Menggunakan kembali sampah;
  • Prinsip akuntabilitas produsen (termasuk strategi Extended Producer Responsibility/EPR);
  • Daur ulang;
  • Pengomposan;
  • Partisipasi warga dan hak pekerja;
  • Larangan teknologi thermal dan pembuangan sampah yang ilegal;
  • Pengurangan sistematis di tempat pemrosesan akhir (TPA) secara progresif; dan
  • Kebijakan, peraturan, insentif, dan struktur pendanaan yang efektif untuk mendukung sistem ini.

Program zero waste yang efektif juga melibatkan banyak orang dari berbagai latar belakang. Dari koperasi pekerja ke kelompok lingkungan lokal ke universitas dan pemerintah, orang-orang di seluruh dunia bekerja sama untuk mengembangkan program zero waste, mengadopsi resolusi, dan menciptakan rencana inovatif untuk mengurangi sampah dan ketidakadilan. Para pegiat ini memodelkan efisiensi dan keberlanjutan dengan menciptakan lapangan kerja dan mata pencaharian yang baik di industri pakai ulang dan daur ulang, mengurangi konsumsi, dan mengharuskan produk dibuat dengan cara yang aman bagi manusia dan planet ini. Mereka membuktikan bahwa udara, tanah, dan air kita tidak harus tercemar, dan sumber daya alam kita tidak perlu dibuang (6). Sudah sangat banyak inisiatif-inisiatif dari seluruh dunia yang lebih mengedepankan pendekatan zero waste ini. 

Upaya zero waste yang dilakukan di Bandung.

Upaya zero waste yang dilakukan di Bandung.

Apa yang terjadi dengan residu?

Pembakaran sampah kota sebanyak maksimal 1.000 ton/hari di 7 (tujuh) kota atau total 7.000 ton/hari berarti menambah jumlah B3 berupa fly ash dan bottom ash secara signifikan, yaitu sekitar 25% atau total sekitar 1.750 ton per hari. Jika PLTSa beroperasi selama setahun, 638.750 ton atau 455.724 m3 limbah B3 berupa fly ash dan bottom ash akan dihasilkan 7 (tujuh) kota tersebut secara bersama-sama, atau 65.103 m3 limbah B3 setiap kotanya. Jika dianalogikan dengan muatan truk sampah standar (7 m3), maka total limbah B3 yang harus diangkut setiap kota adalah sekitar 9.300 kali muatan truk sampah per hari. Terlebih lagi, saat ini di Indonesia hanya ada 1 fasilitas pengolahan limbah B3, yakni PPLI di Cileungsi, Bogor. Perlu dipertimbangkan dengan seksama, bagaimana limbah B3 dari 7 (tujuh) kota akan dikelola dan diolah (7)

Hal-hal di atas merupakan alasan mengapa LSM memberikan perhatian kepada emisi.  Saya sebagai generasi muda, yang juga bagian dari LSM, memandang ini bukan hanya sekadar sensitif atau tidaknya terhadap emisi, tetapi karena emisi tersebut yang dampaknya fatal pada kualitas hidup. Terlebih lagi zat pencemar organik persisten yang dampaknya pada anak-anak jauh lebih fatal daripada orang dewasa. Sehingga sangat wajar sebagai anak muda, apalagi masih berharap memiliki keturunan yang sehat memberi perhatian terhadap isu emisi.

Polusi adalah masalah yang kompleks dan dapat mempengaruhi bayi, anak-anak, orang dewasa, dan manula. Polusi udara dan polutan kimia organik memang kurang mendapat perhatian dalam penelitian dibanding logam berat, tetapi pada kenyataannya hal ini menimbulkan kekhawatiran yang terus meningkat. Polusi udara dapat bertindak melalui banyak jalur, memberikan efek luas pada otak dan sistem saraf pusat. Polutan kimia organik, seperti PCB dan dioksin, juga semakin dipandang sebagai ancaman yang muncul karena dampaknya yang berkepanjangan di lingkungan dan kemampuan untuk mengakumulasikan diri dalam rantai makanan (8)

Disamping itu, semestinya pemerintah, LSM, korporasi, akademisi, media massa, dan filantropi, sudah saatnya untuk benar-benar duduk bersama dengan pemikiran tanpa agenda apapun, melainkan menyamaratakan pemahaman tentang pembangunan berkelanjutan dan bagaimana bersama-sama, bahu-membahu, menyelesaikan permasalahan sampah dengan pemahaman yang tidak diganggu oleh kepentingan komersil, politik, maupun kepentingan individu/golongan lainnya.

Sumber:

(1), (4), (5), (7) Permohonan Uji Materil Perpres No.18 Tahun 2016.

(3) Detik.com

(2) Forest Climate Center

(6) Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA)

(8) US National Library of Medicine

Foto: Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *