SDGs? Apa itu? 

SDGs? Apa itu? 

Istilah sustainability atau berkelanjutan akhir-akhir ini cukup sering didengar. Terlebih lagi sejak diperkenalkannya SDGs atau Sustainable Development Goals, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Jika kita ingat istilah MDGs (Millenium Development Goals) yang diperkenalkan tahun 2000, ternyata ini masih ada hubungannya. Program MDGs yang berakhir tahun 2015 dilanjutnya dengan SDGs. Dari 8 (delapan) tujuan besar dalam MDGs berkembang menjadi 17 (tujuhbelas) tujuan pada SDGs. Konsep berkelanjutan yang kita kenal sebagai 3P (planet, people, dan profit) berkembang menjadi 5P dengan tambahan peace dan partnership.

Bukan hanya urusan pemerintah saja lho isu berkelanjutan ini. Namun, pemuda juga punya peranan penting. United Nations Population Fund (UNFPA) pada tahun 2012 memperkirakan bahwa ada sekitar 43% dari total populasi dunia adalah pemuda yang berusia di bawah 25 tahun. Artinya, kelompok pemuda ini memiliki suara yang bisa didengar dan menggerakkan seluruh dunia.

Isu-isu yang menjadi fokus perhatian pada SDGs bukan sesuatu yang baru, semuanya sudah kita kenali dengan baik. Bahkan kita juga sedang mendalami isu itu sendiri. Misalnya saja isu kemiskinan, pendidikan, lingkungan hidup, pangan, kesetaraan gender, dan lain sebagainya. SDGs bisa kita gunakan sebagai platform untuk berinteraksi dengan anak muda di belahan bumi yang lain. Kita bisa bertukar cerita, pengalaman dalam melakukan kampanye pada isu tertentu, dan bahkan melakukan kemitraan.

Survey statistik yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 tentang kepemudaan menunjukkan bahwa populasi pemuda di Indonesia adalah 24,20% dari total penduduk Indonesia, yaitu berkisar 61,68 juta jiwa. Pemuda yang dimaksud adalah mereka yang berusia 16-30 tahun. Lebih lanjut dalam survey tersebut, hanya 5,86% pemuda yang aktif berorganisasi. Namun, hanya 8,95% dari pemuda tersebut yang memanfaatkan organisasi sebagai sarana belajar kepemiminan. Sangat disayangkan jika masa muda tidak diisi dengan kegiatan berorganisasi yang dapat membentuk pribadi kita dalam memandang suatu permasalahan dan menjadi bagian dalam pemecahan permasalahan itu sendiri.

Kemajuan teknologi saat ini memudahkan kita untuk terkoneksi dengan siapapun tanpa batas. Terlebih lagi dalam isu SDGs ini yang mana kita dituntut untuk ikut serta dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Apalagi ditambah dengan platform Sustainable Development Solution Network (SDSN) khusus pemuda, yaitu SDSN Youth, yang mengajak kita untuk terlibat dalam suatu komunitas global berisi anak-anak muda yang memiliki peran dalam masyarakat.
Tidak sulit untuk memulai dalam diri menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan. Pertanyaannya hanya satu, siapkah kita menjadi bagian dalam pembangunan berkelanjutan? Hanya kamu yang bisa jawab!

Tulisan ini dipersembahkan untuk Sustainable Suzy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *