Bye Bye Social Media

Bye Bye Social Media

Baru saja saya memutuskan untuk mundur dari kemegahan media sosial. Sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia ini, baik secara pribadi dan profesional, tentunya tidak mudah hingga akhirnya memutuskan untuk mundur. Ini bukan kali pertama saya mundur dari media sosial. Kali pertama adalah ketika mundur dari Path tanggal 18 Januari 2014 lalu. Alasannya ketika itu adalah karena Bakrie yang memiliki saham di Path. Hal itu saya lakukan karena alasan solidaritas terhadap lingkungan dan masyarakat Lapindo. Alasan lainnya adalah saya sangat lelah melihat aktivitas orang-orang dari bangun sampai tidur, entah betulan atau hanya rekayasa. Alasan kali ini mundur cukup berbeda. Kebanyakan karena arus informasi, yang buruk dan yang baik, yang menurut saya terlalu besar hingga saya sudah tak mampu lagi untuk melihatnya lagi.

 

1549198_10152114070549477_1397708451_n

Screenshot pengunduran diri dari Path. Sudah tiga tahun terbebas dari belenggu kemegahan tahap pertama!

Semua berawal ketika Teh Sarah Sechan, melalui Instagram-nya, mengumumkan pengunduran dirinya dari media sosial. Screenshot Instagram Teh Sarah saya tampilkan di bawah. Ketika itu, saya jadi terpikirkan kembali mengenai hal tersebut. Sebelumnya, saya dalam tahap love-hate relationship dengan media sosial. Dari uninstall, kemudian re-install lagi. Begitu terus berkali-kali. Terakhir melakukan hal seperti ini minggu lalu, sampai akhirnya mengundurkan diri sama sekali. Hingga akhirnya memutuskan ini, banyak pertimbangan-pertimbangan yang bikin perasaan tak menentu.

Screen Shot 2017-03-22 at 17.10.56Screen Shot 2017-03-22 at 17.11.05Screen Shot 2017-03-22 at 17.11.15Screen Shot 2017-03-22 at 17.11.24Screen Shot 2017-03-22 at 17.12.50Screen Shot 2017-03-22 at 17.12.57Screen Shot 2017-03-22 at 17.13.03

Beberapa hari ke belakang, saya banyak melakukan refleksi diri mengenai alasan-alasan saya berada di dunia media sosial dan berpikir alasan-alasan kuat apa yang memaksa saya untuk segera keluar dari dunia tersebut. Banyak hal yang saya dapatkan dari menggunakan media sosial. Terlebih lagi sebagai generasi millennial, tentunya media sosial adalah konsumsi sehari-hari. Apa jadinya hidup tanpa media sosial? Tentunya saya bisa seperti sekarang ini karena saya cukup aktif menggunakan sosial media, baik itu mengenai apa yang saya lakukan, berinteraksi dengan teman-teman maya, berbagi informasi yang saya rasa penting untuk dibagikan, mendapatkan informasi untuk saya ikuti, dan lain sebagainya. Pekerjaan pertama saya dapatkan melalui informasi dari Facebook. Jika saya tidak membuka Facebook kala itu, mungkin akan lain keadaannya. Saya sangat bersyukur manusia diberikan akal dan pikiran sehingga bisa membangun peradaban dengan begitu hebatnya.

Namun, akhir-akhir ini, kesemuanya seakan runtuh karena setiap orang nampaknya terlalu egois. Hal ini saya rasakan sejak Pemilihan Presiden 2014 lalu. Semua linimasa di setiap media sosial ramai dengan itu. Sah sah saja semua menyampaikan pendapatnya. Hanya saja, saya masih memiliki nilai lain dalam diri saya bahwa Pemilihan Umum (Pemilu) itu harus Luber (langsung, umum, bebas, dan rahasia) dan Jurdil (jujur dan adil).  Sebut saya kolot, tapi saya masih memegang prinsip ini. Karena perbedaan pandangan, banyak yang akhirnya bermusuhan. Ketika menekan tombol “Unfriend” menjadi malapetaka. Kemudian kondisi ini berulang di tahun 2016 karena Pemilu Kepala Daerah (terlebih lagi DKI Jakarta) dan ini akan terus berlanjut hingga tahun 2018 ketika Jawa Barat akan memilih Gubernur yang baru.

Saya hanya tidak mau kesehatan mental saya terganggu karena opini-opini politik yang berlainan dengan agama mereka menjadi alasan mereka untuk bermusuhan, memutuskan hubungan keluarga, menghakimi seseorang karena dianggal liberal, dan lain sebagainya. Saya mengalami hal tersebut hanya karena saya kuliah di kampus yang dianggap liberal. Toh, tidak ada garansi juga kalau saya kuliah di kampus favorit lainnya, agama yang saya anut menjadi dipertanyakan. Ketika mereka berbicara bahwa Tuhan hanyalah satu-satunya yang patut menghakimi kita, secara tidak sadar mereka menghakimi kita dengan pemahaman agama mereka yang berada di atas saya.

Media sosial menjadi sarana untuk menjatuhkan orang lain. Saling sindir menyindir. Saling pamer. Saya akui, saya pernah melakukan hal-hal tersebut. Sampai akhirnya saya muak pada diri saya sendiri karena melakukan hal tersebut. Apa yang saya dapatkan? Tidak ada. Awalnya saya berpikir itu hanya untuk kesenangan saja, tapi ternyata tidak. Saya tidak senang dengan itu semua. Buat apa saya pamer barang-barang yang baru saya beli? Buat apa saya pamer karena saya ke luar negeri? Buat apa saya pamer karena saya baru saja masuk surat kabar? Semuanya tidak ada alasan yang kuat mengapa saya melakukan hal tersebut, selain karena memenuhi kebutuhan pamer dan sombong. Dan itu menyiksa saya karena akhirnya saya harus memelihara itu semua agar saya terlihat selalu sempurna. Saya manusia. Manusia makhluk hidup yang sempurna di antara makhluk hidup lainnya (hewan dan tumbuhan). Namun, tidak semua manusia itu sempurna di antaranya sendiri. Saya tidak sempurna dan saya tidak ingin menjadi sempurna hanya untuk memenuhi nafsu kesombongan. Saya hanya ingin kesehatan mental saya terjaga dan ini menjadi sikap saya menghargai opini-opini orang lain, dengan cara saya sendiri.

Inilah saya sekarang! Tahap kedua mengundurkan diri dari kemegahan media sosial. Media yang pernah menemani hari-hari saya selama lebih dari 10 tahun (Facebook menjadi media sosial pertama saya yang berhasil saya pelihara selama ini!). Namun, setiap awalan pasti ada akhir. Sama seperti hidup. Berani memulai, harus berani pula menyelesaikannya. There are ups and downs, highs and lows, and everything in  between. Terima kasih, media sosial. Terima kasih, teman-teman maya. Selamat kembali lagi di dunia nyata, Rahyang. Saatnya bertemu teman-teman yang benar-benar nyata!

Screen Shot 2017-03-22 at 16.52.33Screen Shot 2017-03-22 at 16.52.47Screen Shot 2017-03-22 at 16.53.06

5 responses to “Bye Bye Social Media”

  1. Andhikamppp says:

    Keren!!! Sungguh suatu keputusan yang luar biasa di era milenial ini. Selamat mendapatkan kembali ketenangam hidup, Mas. 🙂

    Saya (dan juga jutaan penggiat media sosial yang masih bertahan) memiliki jug polemik yang sama. Namun, untuk saat ini, saya masih membutuhkan dan menganggap media sosial sebagai sebuah simbiosis mutualisme.

    Dan, sekali untuk saat ini, saya menyikapi “tidak menyenangkannya media sosial” dengan mengubah lingkaran media sosial saya menjadi orang-oeang yang benar baru. Memang tidak ada jaminan segala drama itu akan berhenti. Tak masalah, kadang saya membutuhkan itu untuk kemudian saya tertawakan.

    Salam kenal, mas.

  2. ayudevi says:

    Luar biasaaaaaaaa, bisa keluar dari salah satu medsos itu mikirnya berulang kali kalo buat aku…

    Berharap someday bisa kayak gini juga… 😆😆😆

  3. Dwi Arum says:

    Wooow kereeen.. selamat om. Kalau saya belum sanggup melakukan ini 😁😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *