Saya Bukan Mahasiswa Teknik Lingkungan

Saya Bukan Mahasiswa Teknik Lingkungan

“Rahyang kuliah teknik lingkungan?”

“Rahyang, Teknik Lingkungan angkatan berapa?”

Kuliahnya dulu Teknik Lingkungan, ya?

Entah mengapa menjadi aktivis lingkungan identik dengan mahasiswa/alumni jurusan Teknik Lingkungan. Bahkan, lulusan jurusan tersebut pun engga banyak yang akhirnya menjadi aktivis lingkungan. Buktinya (asumsi gue sih ini, karena melihat rekan-rekan di sekitar), mereka yang menjadi aktivis lingkungan kebanyakan, atau mungkin hampir semua, bukan berasal dari latar pendidikan teknik lingkungan. Meskipun sebetulnya saya merupakan lulusan jurusan budidaya pertanian, tentunya berkaitan dengan lingkungan juga dan lebih spesifiknya tentang tanaman, cukup jauh dengan pekerjaan saya saat ini. Entah apa yang berada di benak mereka atau hal apa yang menjadikan bahwa menjadi aktivis lingkungan adalah kerjaan anak Teknik Lingkungan.

Tidak mudah memang menjadi aktivis lingkungan, apalagi bukan yang benar-benar memiliki latar belakang ilmu lingkungan yang kuat. Seringkali dianggap “tong kosong nyaring bunyinya“. Bahkan banyak yang menganggap (dari mereka yang merupakan akademisi atau pakar) bahwa aktivis lingkungan banyak tidak mengetahui duduk permasalahan, tetapi bicara banyak. Saya pun dianggap demikian. Perbedaan besar antara yang mengalami kuliah 8 semester dan mengalami langsung di universitas “kehidupan” adalah tentang nilai apa yang diyakini dan cara pandang dalam melihat dan memahami suatu isu. Perlu diketahui, bahwa menjadi aktivis lingkungan pun bukan berarti kami tidak belajar. Dengan berkembangnya teknologi komunikasi saat ini, saya dan rekan-rekan aktivis lainnya banyak membaca jurnal-jurnal ilmiah, sama seperti anak teknik, untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan kami untuk meningkatkan kualitas dari kampanye yang kami lakukan. Kami pun banyak berdiskusi dengan mereka yang lebih paham terkait isu lingkungan, baik itu akademisi, pakar, pelaku, dan lain sebagainya.

Pernah suatu kali, ketika sedang mengisi diskusi suatu LSM sebagai pembicara, salah seorang pembicara lain mengatakan ini kepadaku, “ahli-ahli plastik tuh banyak yang low profile, malah orang yang engga ahli plastik, banyak bicaranya“. Saya tahu dia sedang menyindirku yang banyak bicara tentang pentingnya mengurangi plastik. Saya memang bukan lulusan Teknik Lingkungan, atau teknik-teknik lainnya yang bergengsi. Mereka menganggap kesalahan bukan pada teknologinya, bukan pada plastiknya. Saya setuju dengan ini. Mereka menganggap bahwa sistem yang harus diperbaiki. Saya pun setuju. Sistem berkaitan dengan siapa? Manusia ‘kan? Bukan hewan ataupun tanaman yang saya budidayakan saat kuliah dulu, bukan juga plastik yang tidak perlu disalahkan tersebut. Mahasiswa/alumni Teknik Lingkungan bisa saja tidak mendalami bagaimana berhubungan dengan manusia. Itulah mengapa ada jurusan kuliah lain yang ada di kubu sosial, yang, mohon maaf, saya lihat banyak orang yang ada di kubu pengetahuan alam, mendiskreditkan orang-orang di kubu pengetahuan sosial. Disinilah pentingnya berhubungan dengan sesama manusia, meski berlainan latar belakang pendidikan.

Entah apa yang mengakibatkan fenomena ini terjadi. Saya pun mengalami hal demikian saat duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) dulu. Dari segi nilai, saya lebih cocok untuk masuk kelas IPS (ilmu pengetahuan sosial), tetapi saya bersikukuh untuk masuk kelas IPA (ilmu pengetahuan alam). Karena apa? Karena saya lihat anak-anak IPS kerjaannya main terus dan nakal-nakal, saya gak mau itu. Akhirnya dengan memaksakan diri masuk ke kalangan “terpelajar”, dengan konsekuensi selalu remedial mata pelajaran Fisika. Semakin dewasa, saya semakin memahami bahwa hal tersebut sangatlah bukan menjadi permasalahan yang harus diperdebatkan. Semakin kita kenal diri kita sendiri, semakin kita tahu apa yang kita butuhkan. Sejak SMA hingga kuliah sarjana, saya mengenyam pendidikan untuk anak-anak IPA. Setelah saya bekerja, saya mengerti bahwa IPA saja tidak akan cukup. Perlu adanya unsur-unsur sosial yang dibangun. Sehingga akhirnya saya sekarang berada di kubu anak-anak IPS, menjadi anak komunikasi.

Menjadi ahli dalam satu bidang bukan berarti mengubah kita menjadi seseorang yang angkuh, merasa paling tahu dan merasa apa yang kita miliki lebih benar daripada orang lain. Saya tidak pernah mengklaim diri saya menjadi ahli plastik, atau paling tahu dalam isu ini. Saya hanya seseorang yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan hidup di bumi, yang salah satunya dihambat oleh adanya polusi dari sebuah barang yang mereka minta untuk tidak dipersalahkan, yaitu plastik. Saya dan kawan-kawan aktivis lingkungan lainnya mencoba untuk memperbaiki keadaan di bumi dari barang yang sepatutnya tidak dipersalahkan tersebut, barang yang mereka anggap sebagai hasil dari peradaban modern. Mari bekerja sama dan jangan hanya “jualan” produk saja. Bisa coba tidak bernapas ketika memproduksi barang atau menghitung keuntungan Anda? Masih butuh oksigen?

Tidak ada salahnya mengurangi penggunaan plastik dalam hidup kita, tidak ada salahnya menjadi lebih bijak dalam menggunakan plastik, atau bahkan menjadi anti plastik. Tidak ada salahnya juga untuk mereka yang memproduksi plastik, atau memproduksi produk-produk yang diklaim ramah lingkungan. Peran kita sebagai makhluk hidup yang katanya sempurna dibanding makhluk hidup lainnya adalah untuk menjaga keberlangsungan bumi ini, dengan sepenuh hati tanpa kompromi. Silahkan berjualan, silahkan berkampanye, tapi hati-hati mengklaim diri sebagai pihak yang paling benar dan mendiskreditkan orang lain. Note to myself.

Saya bukan mahasiswa Teknik Lingkungan. Namun, saya memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup, sama seperti Anda. Apapun latar belakang pendidikan saya atau Anda, atau siapapun, kita semua punya tanggung jawab yang sama terhadap keberlangsungan bumi ini.

2 responses to “Saya Bukan Mahasiswa Teknik Lingkungan”

  1. Imang says:

    dulu pernah jadi volunteer Greenpeace.
    Sayangi Bumi, sayangi keluarga
    Salam kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *