Fellowship Story – Chapter 1

Fellowship Story – Chapter 1

Banyak yang tanya kapan saya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Saya selalu jawab, “nanti kalau memang dibutuhkan“. Ya, saya mengendalikan diri saya untuk tidak selalu menuruti apa yang saya inginkan. Perkara pendidikan tinggi itu bukan melulu tentang gengsi. Saya selalu berupaya mengajak diri saya berpikir, “apakah saya butuh untuk melanjutnya pendidikan?“, “apakah pekerjaan saya menuntut saya untuk kuliah lagi?“.

Terpikirkan oleh saya untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana. Merasakan apa yang dikerjakan sehari-hari bukan merupakan turunan dari keahlian akademis sarjana saya, sepertinya saya merasa perlu upgrade diri saya untuk memiliki kapabilitas lebih dalam melakukan pekerjaan profesional saya. Selama empat tahun terakhir, banyak pertimbangan mengenai spesialisasi apa yang akan saya ambil untuk mendukung pekerjaan profesional.

Teman saya, Mahfud Achyar, mendapatkan beasiswa untuk kuliah pascasarjana di Universitas Paramadina dengan kekhususan Corporate Communication. Saya banyak bertanya juga saat itu (kurang lebih satu tahun yang lalu). Sempat saya buka-buka situsnya dan mengunduh formulirnya, tetapi saya belum merasa tergerak untuk mengisinya. Jurusan komunikasi memang menjadi ketertarikan saya, terlebih apa yang saya kerjakan sehari-hari lebih banyak berurusan dengan komunikasi.

Setahun kemudian (kira-kira bulan Maret tahun ini), Mba Dian, mahasiswi Universitas Paramadina yang juga mengambil Corporate Communication, mengontak saya terkait tugas kuliahnya yang bersinggungan dengan aktivitas organisasi non-profit. Saya menjadi tertarik untuk bertanya-tanya mengenai perkuliahan di Universitas Paramadina. Menariknya lagi, beliau juga mendapatkan beasiswa. Sejak saat itu, motivasi saya mulai keluar dan berniat untuk mendaftar tahun ini.

Saya mulai mencoba untuk mengontak Mba Lina, Humas Universitas Paramadina, untuk mencari tahu informasi pendaftaran jalur beasiswa. Saya pernah mengontak beliau juga tahun lalu. Perlu diketahui, Universitas Paramadina menjalin kerjasama dengan Medco Foundation untuk program pascasarjana yang diberikan kepada aktivis organisasi non-profit, guru/dosen, dan jurnalis. Mengingat kebutuhan dan sumber daya yang saya miliki, saya merasa bahwa mendaftar di Universitas Paramadina adalah pilihan yang tepat.

Sementara teman-teman saya berlomba-lomba mendapatkan beasiswa di LPDP atau Chevening, saya memilih bermain di dalam negeri. Bukan tidak mau ikut berkompetisi dan mengenyam pendidikan yang lebih bergengsi, tetapi saya lebih berkaca pada diri saya. Butuh atau ingin? Mendesak atau tidak? Saya masih terikat komitmen dengan pekerjaan saya, paling tidak hingga 2018 (meski saya tidak ingin melepas pekerjaan ini). Saya tidak mungkin meninggalkan pekerjaan saya demi mengejar beasiswa ke luar negeri dan meruntuhkan komitmen yang sudah saya ikrarkan kepada organisasi tempat saya bekerja. Organisasi saya bukan organisasi besar yang bisa ditinggalkan begitu saja. Organisasi ini masih berkembang dan saya berada di posisi tingkat atas yang harus menjamin bahwa organisasi ini berdiri tegak. Keinginan saya untuk kuliah lagi harus sejalan dengan komitmen saya terhadap organisasi ini. Kuliah jalan, kerja juga jalan. Bagaimana bisa?

Oleh karena itu, saya perlu memilih lokasi kampus yang di dalam negeri (kalau bisa di kota yang sama dengan pekerjaan saya), waktu yang sesuai, dan kesempatan mendapatkan beasiswa. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, beasiswa Paramadina – Medco Foundation Fellowship ini pilihan tepat bagi saya. Mengapa? Karena mereka membuka kesempatan beasiswa bagi aktivis organisasi non-profit, seperti saya. Waktu perkuliahan dimulai malam hari setelah jam kerja selesai. Lokasinya di Jakarta, sehingga memudahkan saya untuk mengatur dengan lokasi kerja. Dengan memahami kebutuhan, saya lebih terarahkan bagaimana rencana studi dan target pekerjaan tidak saling tumpang tindih.

Proses untuk mendaftar cukup memakan waktu yang lama. Kurang lebih empat bulan yang saya butuhkan hingga akhirnya saya mengirimkan berkas-berkas pendaftaran. Proses paling lama adalah membuat esai. Saya tidak mahir membuat esai. Namun, saya mendapatkan jurus membuat esai dari sahabat saya, Naluri. Menurut dia, rumus STAR itu tepat untuk menulis esai. STAR merupakan singkatan dari Situation, Task, Action, dan Result. Saya tidak akan menjelaskan rumus STAR ini disini, tapi dengan menggunakan rumus tersebut dan hasil diskusi dengan sahabat saya, akhirnya esai yang saya buat rampung. Selain esai, saya didukung oleh dua wanita hebat yang memberikan rekomendasi kepada saya, Nadine Zamira dan Dr. Cindy Priadi.

Saya tidak menyangka ketika saya dipanggil untuk wawancara tahap pertama pada bulan Agustus lalu. Hal yang saya ingat saat wawancara tahap pertama ini adalah ketika saya ditanya mengenai konsep komunikasi. Untungnya beberapa tahun lalu saya sempat membaca buku-buku tentang komunikasi. Saya saat itu menjawab “proses komunikasi itu bertujuan untuk menyampaikan pesan antar pemberi pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan) untuk mencapai kesepahaman“. Bener gak ya? Hehehe….

Lebih kaget lagi ketika seminggu kemudian dipanggil untuk wawancara tahap kedua. Wawancara ini lebih singkat (mungkin sekitar 15 menit), tetapi konteksnya lebih dalam. Salah satunya adalah saya ditanya lebih dalam mengenai apa yang bisa saya kontribusikan kepada masyarakat setelah lulus nanti.

Seminggu setelah wawancara tahap kedua, saya sedang di sekolah untuk program EnviroChallenge dan saat sedang sesi istirahat, saya mengecek e-mail dan ada pesan masuk dari Mba Lina yang memberitahukan bahwa saya mendapat kesempatan beasiswa 75% dan berhak melanjutkan pendidikan di Universitas Paramadina di program Corporate Communication. Seneng banget! Akhirnya keinginan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tercapai juga.

Apa yang saya terima ini tidak didapatkan dengan mudah, ada proses-proses yang kasat mata dan mungkin hanya saya dan Allah yang paham bagaimana itu. Ini seperti fenomena gunung es. Diterimanya saya menjadi mahasiswa pascasarjana merupakan puncak gunung es, ada hal-hal dibawah itu yang mendukung munculnya gunung es tersebut. Bisa jadi, apa yang saya kerjakan bertahun-tahun ini menjadi faktor pendukung yang memudahkan saya mendapatkan beasiswa ini. Proses melengkapi persyaratan pendaftaran pun bukan hal sepele. Terlebih lagi, izin orang tua dan selalu mendekatkan diri kepada Allah untuk meminta kelancaran adalah kunci yang amat penting. Saya selalu ingat orang bijak berkata “tidak ada hasil yang mengkhianati proses” dan juga Agnez Mo “dream, believe, and make it happen“. Berani?

Special thanks to Bu Tiza Mafira, yang sudah bersedia menjadi "penanggung jawab" selama dua tahun ke depan. Love you, sweetheart!

Special thanks to Bu Tiza Mafira, yang sudah bersedia menjadi “penanggung jawab” selama dua tahun ke depan. Love you, sweetheart!

2 responses to “Fellowship Story – Chapter 1”

  1. Novya says:

    Selamat ya mbak…ikut senang.semoga pendidikannya lancar sampai akhir dan ilmunya bermanfaat bagi diri mbak dan lingkungannya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *